Halaman

Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2011

Mari BeRRsemangaTTT!!!



Tulisan ini disadur dari artikel asli yang berjudul “Semangat Menyambut Panggilan Dakwah” karya Ust. Abdul Muiz, M.A. dari Majalah Tarbiyah Edisi 4 Th. I / Sya’ban-Ramadhan 1424 H/Oktober-November 2003 M. Hmmm, meskipun sudah cukup lama, insya Allah tetap bermakna saat dibaca ulang.

Bismillahirrahmanirrahim...

Kalau kita mendengar kata “militan” nggak jauh dengan sekelompok kata yang merujuk pada “ketangguhan” atau “keseriusan” atau bahkan “prajurit yang sedang berperang.” Iya nggak sih? Iya aja deh. Emang sih kesannya seram, makanya nggak mudah lho untuk menjadi seseorang yang nempel dengan rasa “militan”. Seolah-olah, kalau seseorang sudah militan, pasti jalannya lurus-lurus saja. Tapi, sebelum kita masuk ke bahasan lebih seru, jangan takut dulu ya, tulisan ini nggak akan membuat kita melakukan bom bunuh diri kok!! Hehe... Check this out, bro!!!

Bersemangat dalam menyambut panggilan dakwah menunjukkan adanya keseriusan (jiddiyah) karena keseriusan adalah salah satu ciri kader militan. Keimanan seseorang belum sempurna kecuali apabila mendengar panggilan Allah dan Rasul-Nya segera menyambut panggilan tersebut dengan senang hati dan penuh semangat. Al-Qur’an mengingatkan kita tentang hal itu “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (AI-Anfal:24).

Pasti pernah dengar juga kalimat ini “Sam’an wa tha’atan” (Kami dengar dan kami taati) atau “Labaik wa sa’daik” (Kami siap melaksanakan perintah dengan senang nati).

Para sahabat Rasul di saat menjelang Perang Badar, ketika Rasul ingin mengetahui kesiapan mereka untuk perang menghadapi musyrikin Quraisy, mengingat tujuan awal mereka bukan untuk perang tetapi untuk menghadang kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan, namun kafilah itu berhasil meloloskan diri dari hadangan kaum muslimin, maka Rasul bermusyawarah dengan mereka tentang apa harus dilakukan. Dari kalangan Muhajirin Abu Bakar dan Umar bin Khattab menyambut baik untuk terus maju ke medan pertempuran.

Sedangkan Miqdad bin `Amru mengatakan : “Wahai Rasulullah, laksanakanlah apa yang telah diberitahukan Allah kepadamu, kami tetap bersamamu. Demi Allah kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan Bani Israel kepada Nabi Musa,yaitu “Pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah, kami tetap duduk di sini”. Tetapi yang kami katakan kepadamu adalah : “Pergilah kamu ber-sama Rabbmu dan berperanglah, kami ikut berperang bersamamu”. Demi Allah yarg mengutusmu membawa kebenaran, seandainya kamu mengajak kami ke Barkul Ghimad (suatu tempat di Yaman, red ) pasti kami tetap mengikutimu sampai di sana.

Setelah sahabat Muhajirin, sahabat Anshar yang diwakili oleh Sa’ad bin Mu’adz menyampaikan sikapnya :”Kami telah beriman kepadamu dan kami bersaksi bahwa apa yang kamu bawa adalah benar, atas dasar itu kami telah menyatakan janji untuk senantiasa taat dan setia kepadamu. Wahai Rasulullah lakukanlah apa yang kau kehendaki, kami tetap bersamamu.Tidak ada seorangpun diantara kami yang mundur dan kami tidak akan bersedih jika kamu menghadapkan kami dengan musuh esok hari. Kami akan tabah menghadapi peperangan dan tidak akan melarikan diri. Semoga Allah akan memperlihatkan kepada kamu apa yang sangat kamu inginkan dari kami. Marilah kita berangkat Ilahi.

Dalam riwayat lain, bahwa Saad bin Muadz berkata kepada Rasulullah, “Barang kali kamu khawatir jika kaum Anshar memandang bahwa mereka wajib menolongmu hanya di negeri mereka. Saya sebagai wakil kaum Anshar menyatakan, jalankan apa yang kau kehendaki, jalinlah persaudaraan dengan siapa saja yang kau kehendaki dan putuskanlah tali persaudaraan dengan siapa saja yang kau kehendaki. Ambillah harta benda kami sebanyak yang kau perlukan dan tinggalkanlah untuk kami seberapa saja yang kamu sukai, apa saja yang kau ambil dari kami itu tebih kami sukai daripada yang anda tinggalkan. Apapun yang kamu perintahkan maka kami akan mengikutinya, demi Allah jika kamu berangkat sampai ke Barkul Ghimad kami akan berangkat bersamamu, demi Allah seandainya kamu menghadapkan kami pada lautan kemudian kamu terjun ke dalamnya maka kamipun akan terjun ke dalamnya bersamamu.

Cakep banget dah jawaban-jawabannya, keren puoolll!!! Like this... J
Lah, terus kenapa bisa begitu? Gimana sih caranya?

Empat Aspek Ruhul Istijabah
1. Istijabah Fikriyah (Menyambut dengan pikiran/dengan sadar).

Kader da
Karena itu para kader da’wah harus memahami, bahwa melaksanakan perintah dan tugas yang datang dari murobbi, pembina atau qiyadah dalam rangka taat kepada Allah karena Allah telah mewajibkan taat kepada pemimpin: “Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul serta (taatilah) pemimpin kamu… ” (An-Nisaa:59). Demi laksananya tugas secara maksimal maka seorang kader selalu memikirkan tentang bagaimana cara melaksanakan tugas dengan baik, maka ia harus memperhatikan waktu, cara dan sarana yang tepat sehingga pekerjaan dapat diselesaikan sesuai perintah, rencana, tujuan serta sasaran yang telah ditetapkan.
Bahkan harus memiliki kemampuan memberikan saran, pendapatdan dan pandangannya demi terselenggaranya program dengan baik, seperti yang dilakukan oleh sahabat Habab bin AI Mundzir ketika mengusulkan tempat yang strategis untuk posisi pasukan kaum muslimin pada perang Badar. Habab berkata, ”Wahai Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini anda menerima wahyu dari Allah sehingga tidak dapat diubah lagi, ataukah strategi perang? tempat ini kupilih berdasarkan strategi perang”. Kemudian Habab berujar kembali “wahai Rasulullah tempat ini tidaklah strategis. Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat markas di sana dan menutup sumur-sumur yang ada di belakangnya, kemudian kita buat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita berperang dalam keadaan mempunyai persediaan air minum”. Rasulullah menjawab, “Pendapatmu sungguh baik “.

Begitu pula, pada saat pasukan koalisi, yang terdiri dari kaum Musyrikin, bangsa Yahudi dan orang-orang Munafik menyerang Madinah, Sahabat Salman Al-Farisi menyampaikan usulannya kepada Rasulullah yaitu menggali parit di sekeliling Mmadinah, kemudian Rasulullah menerima usulan tersebut dan menjadi strategi perang yang ditetapkannya sehingga perang itu diberi nama dengan perang Khandak (parit).

Pada perang Qodisiah, perang antara tentara pasukan Persia, yang terjadi di Irak pada masa pemer-intahan Umar bin Khattab, Qoqo bin Amr terus berpikir untuk menaklukkan pasukan bergajah yang menjadi andalan pasukan Persia. Sampai akhirnya Qoqo mendapatkan sebuah ide, untuk membuat patung gajah, agar kuda-kuda milik kaum Muslimin terbiasa melihat gajah sehingga ketika kuda-kuda itu berhadapan dengan gajah-gajah yang sebenarnya, tidak takut menghadapinya. Ternyata ide Qoqo ini menghasilkan buah. Pada perang Qodisiah tentara kaum Muslimin berhasil menaklukan tentara Persia yang mengandalkan pasukan bergajahnya. Khalifah Umar bin khattab pernah berucap, “Tidak akan terkalahkan kaum muslimin selama di sana ada Qoqo bin Amr”. Dalam surat Ar-Ra’d ayat 19 Allah mengingatkan kita akan keistimewaan orang-orang mengoptimalkan akal pikirannya: “Apakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar, sama dengan orang yang buta (tidak menggunakan akal pikirannya). Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”.

2.  Istijabah Nafsiyah (Menyambut dengan perasaan/emosi).

Para aktivis dan kader dakwah bila mendapat perintah dan tugas, baik tarbawi, da’awi maupun tanzhimi harus menyambutnya dengan perasaan senang, gembira, bahagia dan bersemangat untuk melaksanakannya. Janganlah perintah dan tugas itu disambut dengan rasa berat, malas, enggan dan tidak bergairah. Apapun kondisi yang terjadi pada diri kita, baik dalam keadaan susah, berat maupun kekuatan ma’nawiyah tidak mendukung, apalagi dalam keadaan bergembira.

Bila datang panggilan dakwah kita tidak boleh menolaknya atau merasa enggan dan malas memenuhnya. Allah berfirman: ”Berangkatlah kamu dalam keadaan merasa ringgan ataupun ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah, yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah :41).

Kemudian pada ayat yang lain Allah menjelaskan,”Hai orang-orang yang beriman apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu “Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah “; kamu merasa berat dan ingin di tempatmu Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal keni’matan hidup di dunia itu dibandingkan dengan kehidupan di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu “. (At¬Taubah:38-39).

Para kader yang dibina oleh Rasulullah ketika mendengar panggilan jihad mereka berlomba-lomba untuk memenuhinya dengan harapan mendapat kesempatan mati syahid di jalan Allah. Kelemahan fisik tidak menjadi alasan untuk tidak berangkat memenuhi panggilan jihad, bahkan bila mereka tidak dapat memenuhi panggilan jihad karena udzur, mereka menangis. “Dan tidak berdosa atas orang-orang yang apabila datang kepadamu sepaya kamu memberi mereka kendaraan. Lalu kamu berkata :”Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu “. Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan “. (At-Taubah: 92).

Mereka begitu semangat dalam melaksanakan perintah da’wah, perintah tersebut dikerjakan dengan suka cita, riang, gembira serta bahagia, bila mereka dapat melakukannya dengan baik. Sebaliknya, mereka bersedih dan berduka cita bila tidak dapat menjalankan perintah walaupun disebabkan udzur.

3. Istijabah Maaliyah (Menyambut dengan harta).

Dakwah untuk menegakkan dinul Islam muka bumi adalah kerja besar bahkan tidak ada pekerjaan yang Iebih besar darinya. Kerja besar ini membutuhkan dana yang besar pula sebagaimana lazimnya proyek besar. Dalam proyek dakwah pendanaan ditanggung oleh para dai sendiri. Berkorban dengan harta dan jiwa sudah menjadi satu paket yang tidak boleh dipisahkan satu dari yang lainnya. Seperti apa yang Allah rmpaikan dalam Qur’an, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka… ” (At-Taubah : 111).

Kemudian ayat lain Allah menjelaskan, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan imu dari azab yang pedih ?Yaitu, kamu beriman pada Allah dan RasuI-Nya dan berjihad di jalan Alllah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. ” (As-Shaff : 10- 11).

Kader dakwah tidak pelit dengan hartanya untuk pembiayaan berbagai kegiatan da’wah dalam dakwah para kader dan aktivis siap mengorbankan hartanya, jangan mengharapkan keuntungan materi serta harta benda dari dakwah. Khadijah isteri Rasulullah telah memberikan seluruh kekayaannya untuk kepentingan dakwah. Pada perang tabuk kaum uslimin berlomba-lomba menginfakkan hartanya dan bersodaqah. Usman bin Affan sebelumnya telah menyiapkan kafilah dagang yang akan berangkat ke Syam berupa dua ratus onta lengkap dengan pelana serta barang-barang yang berada di atasnya, beserta dua ratus uqiyyah. Setelah mendengar pengumuman Rasulullah, Usman datang pada Rasul kemudian men-shadaqah-kan semua itu.

Kemudian Usman menambah lagi seratus onta dengan pelana dan perlengkapannya. Kemudian beliau datang lagi membawa seribu dinar diletakkan di pangkuan Rasulullah. Rasulullah memperhatikan apa yang dishadaqahkan oleh Usman itu seraya berkata: “Apa yang diperbuat oleh Usman setelah ini, tidak akan membahayakannya”.

Usman terus bershadaqah hingga jumlahnya mencapai sembilan ratus ekor onta dan seratus ekor kuda, belum termasuk uang. Setelah Usman selesai memberikan shadaqah, giliran Abdur Rahman bin Auf datang membawa Dua ratus uqiyyah perak, tak lama setelah Abdur Rahman, datanglah Abu Bakar dengan membawa seluruh hartanya yang jumlahnya Empat ribu dirham, sampai-sampai beliau tidak menyisakan hartanya untuk keluar-ganya kecuali Allah dan Rasulnya. Kemudian sahabat-sahabat yang lain berdatangan. Umar menyerahkan setengah hartanya. AI-Abbas datang menyerahkan hartanya yang cukup banyak. Thalhah, Sa’ad bin Ubadah, Muhammad bin Maslamah semuanya datang menyerahkan shadaqahnya. Tidak ketinggalan Ashim bin Adi datang menyerahkan sembilan puluh wasaq kurma. Kemudian diikuti sahabat yang lain mulai dari yang scdika sedikit sampai yang banyak. Sampai ada di antara mereka yang berinfaq dengan segenggam atau dua genggam kurma, karena hanya itu yang mereka mampu lakukan.

Kaum wanitapun menyerahkan berrbagai perhiasan yang yang mereka miliki, seperti gelang tangan, gelang kaki, anting-anting dan cincin. Tidak ada seorangpun yang kikir menahan hartanya kecuali orang-orang Munafq. Allah berfirman : “Orang-orang Munafiq yang mencela orang-orang Mu’min yang memberi shadaqah dengan sukarela, dan merekapunv menghina orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dishadaqahkan sekedar kesanggupannya “. (At -Taubah :79)

4. Istijobah Harakiyah (Menyambut dengan aktivitas)

Aktivis dakwah adalah yang orang aktif dalam kegiatan dakwah, selalu hadir dalam kegiatan dakwah dan berusaha untuk berada di barisan orang-orang mengutamakan kerja daripada berbicara. Bahkan berupaya untuk berada di garda terdepan dalam mempertahankan dan membela Islam. Perlu diingat, tugas dakwah yang diemban aktivis sangat banyak., lebih banyak dari waktu yang tersedia.

Tugasnya antara lain,
Pertama           : Kewajiban dalam tarbiyah, bertujuan agar kualitas dan mutu kader semakin baik.
Kedua             : Kewajiban dalam dakwah, bertujuan agar penyebaran dakwah semakin luas.
Ketiga             : Kewajiban yang sifatnya tanzhimiyah, bertujuan agar amal jama’i stuktural semakin kokoh.

Melihat kondisi saat ini, dimana tuntutan da
kwah begitu besar, yang disertai ancaman global, tentu hal ini, menuntut kesungguhan, keseriusan serta mobilitas dakwah dan jihad yang tinggi, jika tidak maka kekuatan batil yang akan berkuasa di bumi ini. Dalam hal ini, Allah berfirman, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan, ikutilah agama orang tua Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan begitu pula dalam al-Qur’an ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung”. (AI-Hajj :76 ).

*Mari kita tutup dengan muhasabah...
Ikhwah dan akhwat fillah, sudahkah pikiran kita terkonsentrasikan dan terfokuskan untuk memikirkan umat, memikirkan bagaimana cara yang efektif dalam melakukan da’wah untuk mereka. Sudahkah kita menyumbangkan pendapat, gagasan dan ide terbaik untuk kemajuan dakwah. Sudahkah kita mempersembahkan kreativitas untuk pengembangan dakwah yang lahir dari hasil kajian, telaah, renungan dan evaluasi kerja da’wah saat ini?!.
Ikhwah dan Akhwat fillah, sudahkah kita merasa gembira senang dan bahagia mana kala kita mendengar perintah, menerima tugas dan mendapatkan amanah da’wah.Apakah kita merasa bersedih, menangis dan merasa rugi jika kita tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik, tidak dapat ikut dalam kegiatan da
k
wah di saat uzur. Menyesalkah kita jika tidak dapat menyelesaikan tugas dengan baik ?!
Ikhwah dan Akhwat fillah, sudahkah kita mengeluarkan sebagian dari rizki yang kita dapatkan untuk kepentingan da
kwah. Sudahkah kita berniat dan berazzam untuk menginfaqkan harta kita di jalan Allah? Sudahkah kita miliki tabungan dak
wah?
Ikhwah dan Akhwat fillah, betulkah kita sebagai aktivis da
kwah, apa buktinya? Apa kontribusi riil kita untuk dakwah? Apa prestasi dakwah kita selama ini? Sudah berapa orang yang telah kita rekrut melaui dakwah fardiyah atau dakwah jamahiriyah? sudah berapa orang kader yang kita tarbiyah? Sudahkah kita menjadikan waktu, kerja, profesi dan seluruh aktivitas kita sebagai kegiatan dak
wah ?!
Ikhwah dan Akhwat fillah, keimanan kita baru diakui oleh Allah apabila ada ruhul istijabah pada diri kita, dan baru akan sempurna iman kita jika aspek-aspek istijabah itu telah terpenuhi. Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan terhadap orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka sebelum mereka berhijrah, akan tetapi jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan pembelaan agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada ikatan perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “. (AI-Anfal : 72). ”Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan kepada orang-orang muhajirin, mereka itulah orang-orang yang bena
r-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan, rizki (nikmat ) yang mulia “, (Al-Anfal : 74)

Wallahualam bisshawab... J

kwah ketika mendapat tugas dari murobbi, pembina, maupun qiyadah tidak hanya sekadar melaksanakan perintah dan tugas, tetapi ia sadar betul apa yang dikerjakannya adalah dalam rangka taat kepada Allah dan meraih ridho-Nya, bila dilakukan mendapat pahala dan bila tidak dilakukan dosa.

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Selasa, 31 Mei 2011

Superment (Super Mentoring Training) yuhuu…

Hari/Tanggal : Sabtu, 28 Mei 2011
Tempat         : Ruang O 101-102 FBS UNJ
Pembicara     : Ust. Sri Mudji (0856 9315 0263, 3363 5949)

Setelah izin terlebih dulu kepada panitia bahwa saya tidak bisa mengikuti acara tersebut hingga selesai, akhirnya catatan ringkas ini pun dibuat. Lumayanlah untuk dibaca ulang, daripada tuh catatan jadi lembaran yang mudah hilang.
“Membina ibarat menggosok batuan mulia di mana dia butuh teori, seni, dan pengalaman. Plus, landasi dengan keikhlasan. Hasilnya…. Paten!”
Mengapa mesti membina? Mau tau jawabannya? Jamaah… oh… Jamaah...!!! Hehe J
Coba intip di Al Baqoroh 195, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
Eits, ternyata masih ada jawaban lainnya dari Ust. Sri Mudji. Mau tau? Kita lihat iklan dulu yaaa… J

(CERITANYA IKLAN YA!)

Jamaah… oh… Jamaah…! Simak yaa..
1.      Kontribusi
Peribahasa Arab, “Siapa tidak menambah sesuatu di bumi, maka ia adalah beban bagi bumi.”

2.      Active Income
“Siapa yang menunjukkan pada kebaikan, maka ia mendapat seperti pahala orang yang melaksanakan kebaikan tersebut.” (HR. Muslim

3.      Kualitas Hidup
Al Bayyinah 6-7, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk

4.      Kepahlawanan
Nyata, dalam hidup ini kita memerlukan tokoh untuk dijadikan sebagai teladan. Dan tidak dipungkiri pula bahwa kita suatu waktu perlu menjadi tokoh teladan bagi orang lain. Misalnya, Sultan Muhammad Al Fatih dicontohkan sebagai salah satu tokoh teladan milik Islam (dalam kisah Konstantinopel)

Murabbi itu….
1.      Walid (orang tua) dalam hubungan emosional.
2.      Syaikh (bapak spiritual) dalam tarbiyah ruhiyah.
3.      Ustadz (guru) dalam mengajarkan ilmu.
4.      Qaid (pemimpin) dalam kebijakan umum dakwah.

Suplemen yang baik untuk mentor adalah memiliki daya sentuh, daya gugah, dan daya ubah!  Kelompok yang baik adalah kelompok yang seimbang antara dinamisasi dengan produktivitas!

Menurut KH. Rahmat Abdullah, murabbi ideal itu…
1.      Paling kokoh sikapnya
2.      Paling lapang dadanya
3.      Paling dalam pemikirannya
4.      Paling luas cara pandangnya
5.      Paling rajin amal-amalnya
6.      Paling solid penataan organisasinya
7.      Paling banyak manfaatnya

Ayo, cintai binaan kita! Perhatikan dengan hati! J
Nah, itu dia ringkasannya, saya nggak sempat ikut sesi tanya jawab. Kenapa? Mau tau aja… Hehe J


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Senin, 30 Mei 2011

Surat kepada Ikhwatifillah

 Dibaca ulang, semakin terpekur! Astaghfirullah...

 

 

Sinergisitas Antara Amal Dakwah, Akademik, dan Skill

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kutuliskan surat ini dengan penuh mengharapkan keikhlasan kepada Allah, dan saya senantiasa berharap agar Allah selalu mempersatukan batin kita hanya dalam kenikmatan dalam jamaah ini. Semoga ini menjadi salah satu bukti atau minimal menjadi bukti kecil perhatian para alumni terhadap dakwah antum disana, di kampus tercinta. jangan pernah sekali-kali berpikir bahwa alumni telah melupakan dakwah antum di kampus tercinta, tidak, tidak sama sekali... ingatlah, jika sekali waktu antum menemui kesulitan dalam mengemban amanah mulia ini maka jangan ragu-ragu untuk hubungi kami, insya Allah kami akan senantiasa membantu sesuai dengan kapabilitas kami masing-masing. Walau kita tidak lagi dipersatukan secara fisik, tapi ingatlah ikhwah fillah, doa rabithah yang senantiasa kita baca bukan tidak membekas, bahkan sangat! dan persaudaraan kita telah dipersatukan oleh Allah, kita hanya ingin menjadi seperti yang telah disebutkan Allah dalam hadist, dua orang pemuda yang bertemu dan berpisah hanya karena Allah... semoga Allah memasukkan kita dalam golongan tersebut. Allahumma amien…

Ikhwatifillah,
Dakwah, akademik, dan skill adalah tiga mata rantai yang harusnya tidak bisa terpisahkan dalam pribadi seorang dai. ketika kita menyebut pribadi dai maka harusnya yang terbayang di benak kita adalah bukan hanya pribadi yang menghabiskan waktunya hanya dalam masalah dakwah semata, tapi dia melupakan sisi akademik dan skill kemahasiswaannya.

Seorang dai harusnya tawazun dalam ketiga hal tersebut. tawazun adalah tidak sama dengan seimbang. Jika diibaratkan angka seratus, tawazun bukan berarti 33 1/3 persen untuk dakwah, 33 1/3 persen untuk akademik, dan 33 1/3 persen untuk skill tapi tawazun adalah proporsional. Ada kalanya kita harus mencurahkan seluruh potensi kita hanya untuk akademik di suatu waktu, tapi di waktu lain kita harus mengerahkan seluruh potensi diri kita untuk dakwah dan begitu juga dengan pengembangan skill.

Ketika kita sedang kuliah, maka kerahkanlah perhatian kita hanya untuk mendengar apa yang disampaikan dosen dalam kelas. Akan salah kalau ketika menerima mata kuliah kita berpikir tentang hal lain. Begitu juga ketika ada sebuah amanah dakwah yang harus kita selesaikan, maka selesaikanlah dengan baik, jangan sampai dicampur dengan permasalahan di luar permasalahan dakwah yang sedang kita hadapi

Dari berbagai macam pengalaman, justru saat kita tidak bisa tawazun maka berbagai macam qadhoya mulai bermunculan… Qadhoya tersebut akhirnya hanya akan menghambat perkembangan dakwah kampus dengan atau tanpa kita sadari. Bukankah jika kehilangan seorang aktivis dakwah maka sedikit banyak akan menghambat pertumbuhan dakwah kampus?

Bagaimana caranya untuk bisa tawazun? Ini yang butuh sikap konsistensi kita terhadap apa yang telah kita rancang. Di atas ana telah sebutkan, bahwa ketika antum sedang menghadapi sebuah permasalahan maka curahkan semua perhatian hanya pada masalah yang bersangkutan, jangan dicampur aduk dengan yang lain. Dan ingatlah ikhwah, jika kita bisa mempelajari sebuah permasalahan hanya 2 jam, maka jangan habiskan waktu 3 jam untuk menyelesaikannya! Jika kita mampu menyelesaikan permasalahan organisasi hanya dengan 1 hari maka sekali lagi jangan habiskan waktu 2 hari untuk menyelesaikannya!

Sekarang berkembang sebuah permasalahan di kalangan aktivis, bahwa mereka mempunyai waktu yang sangat kurang dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Kalau menurut ana, hal itu tidaklah sepenuhnya benar. Mari kita lihat ke belakang, seberapa efisienkah waktu yang telah kita pergunakan. Tentu banyak sekali waktu yang kita buang percuma.

Lalu di antara ketiga itu mana yang penting? Tidak ada sesuatu hal yang menempati tingkatan lebih penting jika dibandingkan dengan yang lain. Ikhwah fillah, dakwah adalah sebuah kewajiban hidup, tidak hanya bagi kita yang telah menamakan diri kita sebagai aktivis dakwah, bahkan seluruh umat Islam pun diwajibkan untuk berdakwah… “Barangsiapa yang bangun di pagi hari dan tidak memperhatikan keadaan ummatku, maka sungguh dia bukan golonganku” hadist itu menjadikan bukti konkret bahwa dakwah adalah keniscayaan bagi seluruh umat Islam apalagi kita, aktivis dakwah kampus!

Akademik dan skill, siapa yang bilang kalau itu pun tidak wajib untuk kita pelajari. Kita sedang kuliah di fakultas teknik, ada tuntutan lebih dari Islam terhadap kita. Selain berdakwah, kita juga dituntut untuk mahir dalam bidang yang kita kuasai sehingga nanti kita bisa menguasai dunia dengan ilmu yang kita miliki. Allahumma amien. Ana membayangkan bagaimana kalau nanti kampus putih biru yang terletak jauh dari ujung bandung, melahirkan purnamahasiswa yang mengusai teknologi dengan sangat dan tidak pernah lupa mendirikan qiyamullail dan senantiasa berdakwah. Subhanallah ! bukankah itu azzam kita bersama.

Ketika antum memasuki dunia kerja. Ketiga hal itu pun sangat dipakai. Jika antum mulai dari sekarang sudah berazzam untuk menjadi pegawai di sebuah perusahaan besar yang berskala nasional dan multinasional maka siapkan IPK minimal 3.00. Saat itu antum akan merasakan bahwa IPK (akademik) sangat berperan. Setelah antum menjadi pegawai, antum harus berinteraksi dengan rekan kerja yang lain, hal demikian harus antum lakukan untuk bisa dipromosi.. Di sinilah sangat dibutuhkan kemampuan manajerial dari antum… mulai fase ini IPK sudah tidak begitu diperhatikan lagi karena yang diperhatikan adalah sejauh mana kecakapan antum dalam menyelesaikan pekerjaan dan kemampuan antum dalam berinteraksi dengan rekan kerja.

Banyak orang terlena dengan kerjaannya… Seluruh hidupnya seolah-olah hanya dihabiskan untuk mencari duit semata. Bayangkan bangun jam 6 pulang sehabis isya tidakkah ini melelahkan. Banyak diantara mereka yang kehilangan jati diri mereka karena dunia telah menghiasi hidup mereka… Saat inilah ikhwah fillah, tarbiyah sangat berperan. Ruhiyah antum sangat berperan. Tarbiyah yang baik akan mampu menjaga antum dari kejadian di atas. Antum tetap akan menjadi seorang jundi yang sebenarnya mempunyai sebuah misi khusus dimana pun antum berada sehingga antum akan sangat mudah menjadikan semua wasilah kerja untuk meningkatkan pertumbuhan dakwah.

Begitulah kira-kira ikhwah, gambaran sinergisitas antara dakwah, akademik, dan skill semoga paparan singkat ini menjadi persiapan khusus buat antum yang sedang mengeluti permasalahan akademik dan dunia dakwah kampus.

Tetap istiqamah, teruskan perjuangan yang telah diwarisi oleh generasi sebelumnya. Yakinilah setiap fase itu mempunyai permasalahan masing-masing yang hanya dapat diselesaikan dengan cara masing-masing. jangan memperbesar masalah yang kecil, segeralah dalam melakukan amal, insya Allah dengan cara itu dakwah kampus akan berkembang dan semoga Allah mencatat amal dakwah antum sehingga antum dengan bangga dapat menunjukkannya di hadapan Allah ketika yaumul akhir kelak.. Allauhumma amien.


(diambil dari sebuah blog, afwan ana lupa alamatnya)




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Senin, 25 April 2011

and The Reason is YOU…

Ulasan singkat berikut merupakan intisari dari artikel berjudul Berjuang dengan Ikhlas
yang ditulis oleh Mochamad Bugi

Ada sebuah cerita yang menggetarkan kita semua, selamat menyimak!

Syadad bin Al-Hadi mengatakan, seorang Arab gunung datang kepada Rasulullah saw. lalu beriman dan mengikutinya. Orang itu mengatakan, “Aku akan berhijrah bersamamu.” Maka Rasulullah saw. menitipkan orang itu kepada para sahabatnya.

Saat terjadi Perang Khaibar, Rasulullah saw. memperoleh ghanimah (rampasan perang). Lalu beliau membagi-bagikannya dan menyisihkan bagian untuk orang itu seraya menyerahkannya kepada para sahabat. Orang itu biasa menggembalakan binatang ternak mereka. Ketika ia datang, para sahabat menyerahkan jatahnya itu. Orang itu mengatakan, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah bagianmu yang dijatahkan oleh Rasulullah saw.”

Orang itu mengatakan lagi, “Aku mengikutimu bukan karena ingin mendapatkan bagian seperti ini. Aku mengikutimu semata-mata karena aku ingin tertusuk dengan anak panah di sini (sambil menunjuk tenggorokannya), lalu aku mati lalu masuk surga.”

Rasulullah saw. mengatakan, “Jika kamu jujur kepada Allah, maka Dia akan meluluskan keinginanmu.” Lalu mereka berangkat untuk memerangi musuh. Para sahabat datang dengan membopong orang itu dalam keadaan tertusuk panah di bagian tubuh yang ditunjuknya.

Rasulullah saw. mengatakan, “Inikah orang itu?” Mereka menjawab, “Ya.” Rasulullah saw. berujar, “Ia telah jujur kepada Allah, maka Allah meluluskan keinginannya.” Lalu Rasulullah saw. mengafaninya dengan jubah beliau kemudian menshalatinya.

Dan di antara doa yang terdengar dalam shalatnya itu adalah: “Allaahumma haadza ‘abduka kharaja muhaajiran fii sabiilika faqutila syahiidan wa ana syahidun ‘alaihi” (Ya Allah, ini adalah hamba-Mu. Dia keluar dalam rangka berhijrah di jalan-Mu, lalu ia terbunuh sebagai syahid dan aku menjadi saksi atasnya).” (Diriwayatkan oleh An-Nasai)

Subhanallah, segala alasan adalah Dia, Allah! Sudahkah kita begitu? Ya, rasa-rasanya jauuuh sekali. Ketika ada yang mampir ke hati kita selain keikhlasan, kita perlu memahami bahwa
1.   Allah mengawasi, mengetahui, mendengar, melihat kita. (Al-An’am (6): 3, Ali Imran (3): 29).
2.   Orang yang riya (ingin dilihat orang) atau sum’ah (ingin didengar orang) dalam beramal akan dibongkar oleh Allah semenjak di dunia sebelum di akhirat. Dan mereka tidak mendapatkan bagian dari amal mereka selain dari apa yang dinginkannya. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang ingin (amalnya) didengar orang, maka Allah akan membuatnya didengar; dan siapa yang ingin (amalnya) dilihat orang, maka Allah akan membuatnya dilihat orang.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)
3.   Kekalahan yang diderita kaum Muslimin dewasa ini adalah akibat ulah kita sendiri. (Yunus (10): 44).
4.   Ketidakikhlasan menghancurkan amal, besar maupun kecil. (Thaha (20): 111, Al-Furqan (25): 23).
5.   Orang-orang yang beramal bukan karena Allah adalah orang yang pertama dibakar untuk menyalakan neraka.
6.   Orang-orang yang riya akan menjadi teman setan pada hari kiamat di dalam neraka jahanam.




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Jumat, 22 April 2011

Ahwul ul-Muslim al-Yaum

Tulisan di bawah ini adalah saduran dari artikel asli yang ditulis oleh Ust. M Ihsan Arliansyah Tanjung. Semoga bermanfaat ya, Sob!! ^^
Ahwul ul-Muslim al-Yaum, apaan siiii? Yuk, disimak...

Ternyata, judul di atas kurang lebih begini, suatu upaya untuk menggambarkan keadaan dunia Islam kontemporer (saat ini) dengan segala kelebihan dan kekurangan-kekurangannya. Kondisi umat Islam saat ini penuh dengan kelemahan-kelemahan. Kelemahan-kelemahan itu terkait dengan kapasitas intelektual dan problematika moral. Ada apa aja ya?

A.  Kelemahan dalam Kapasitas Intelektual (Al Jahlu)
  • Lemah dalam Pendidikan (Dho'fut Tarbiyah)
Kelemahan ini bisa kita rasakan dari pendidikan agama Islam yang sangat minim di sekolah formal. Sekali pun ada, ternyata juga masih sangat kurang. Maka dari itu, kita perlu bersama-sama menyajikan Islam dan tarbiyah (pendidikan) dengan mengubah pribadi dan lingkungan sekitar. Semoga dengan cara itu, kapasitas intelektual bisa muncul kembali.

  • Lemah dalam Ilmu Pengetahuan (Dho'fut Tsaqofah)
Kelemahan jenis ini juga merupakan pilar mundurnya kebangkitan Islam. Rendahnya semangat dan kemauan untuk belajar yang berlarut-larut membuat Islam akan semakin terpuruk. Menjadi serasi, jika tsaqofah Islamiyah ini juga didukung dengan pengetahuan umum yang memadai baik politik, ekonomi, kemasyarakatan, dan yang lainnya. Hal itu pun perlu dipahami bahwa seluruhnya merujuk pada Alquran dan sunnah. Mengapa? Sebab, jika hal itu dilupakan, apakah bedanya dengan kepercayaan jaliliyah?

·         Lemah dalam Perencanaan-Perencanaan (Dho'fut Takhthith)
Agaknya benar kata mutiara yang berbunyi: gagal merencanakan = merencanakan kegagalan. Mengapa bisa demikian? Hmm, jelas ya... Bagaimana kita akan pergi ke suatu tempat, tetapi tidak tahu rutenya? Rawan tersasar kan? Nah, setidaknya begitu. Dakwah ini juga bagaikan sebuah perjalanan, yang bahkan tidak kita tahu di mana ujungnya. Maka, jangan heran jika di tengah-tengah kita berjalan tanpa pikiran, tanpa wawasan, tanpa perencanaan, tanpa pola-pola yang indah. Bayangkan saja, jika “tanpa-tanpa” itu terus hinggap dengan kata bernama kebaikan. Dengan demikian, mari kita rencanakan bersama, melakukan pembinaan yang berisi, bukan pembinasaan yang berarti. Semoga!

·         Lemah dalam Pengorganisasian (Dho'fut Tanzim)
Ternyata kelemahan tidak hanya berhenti pada kelemahan dalam perencanaan, tetapi juga dalam hal pengorganisasian. Ali ra berkata, “Kebenaran tanpa sistem yang baik akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi dengan baik.” Mari kita evaluasi, sudahkah kita menyumbang kelemahan ini dalam kerja kita?

·         Lemah dalam Keamanan (Dho'ful Amniyah)
Upaya proteksi yang memadai menjadi penting bagi umat Islam. Kenyamanan setidaknya membuat kita sedikit demi sedikit menjadi lengah akan keamanan diri dan kekayaan baik moral dan material. Oleh karena itu, mari kita jaga, kita amankan aqidah kita dari serbuan budaya jahil.

·         Lemah dalam Memobilisasi Potensi-Potensi Diri (Dho'fut Tanfidz)
Untuk mengoptimalkan peran kita dalam kebangkitan Islam, kita harus memahami dan menyalurkan potensi diri. Mengapa? Karena jika ini mampu kita munculkan, tidak hanya sebagai ungkapan syukur tetapi juga menjadi suatu kekutan yang bisa diandalkan oleh umat, apalagi jika dimobilisasi secara kolektif...

B.   Kelemahan dalam Problematika Moral (Maradun Nafs)


         Akhlak sebagai cermin muslim sudah dicemari oleh berbagai akhlak jahiliyah yang dilandasi oleh budaya dan gaya hidup masyarakat jahiliyah. Banyak didapati muslim yang secara statusnya masih sebagai muslim tetapi tidak mencerminkan lagi akhlak Islam yang susah dibedakan dengan mereka yang bukan muslim. Keadaan demikian tidaklah mustahil mengingat ghazwul fikri (perang pemikiran) yang sangat kuat saat ini. Kelemahan yang termasuk bagian di atas adalah:
·         Hilangnya Keberanian (Adamus Saja’ah)
      Umat Islam tidak seperti dahulu yang berprinsip laa marhuba illalah (tiada yang ditakuti selain Allah) sehingga tidak memiliki keberanian seperti orang-orang terdahulu yakni Rasulullah dan para sahabatnya yang terkenal pemberani. Sekarang ini umat Islam mengalami penyakit Al Juban (pengecut). Rasa takut dan berani itu berbanding terbalik sehingga jika seorang umat Islam takut kepada Allah maka ia akan berani kepada selain Allah tetapi sebaliknya jika ia takut kepada selain Allah maka ia akan berani menentang aturan-aturan Allah SWT.

·         Hilangnya Sikap Teguh Pendirian (Adamus Sabat)
      Umat Islam mulai memperlihatkan mudah mengalami penyimpangan-penyimpangan dan perjalanan hidupnya karena disebabkan oleh :
    1. termakan oleh rayuan-rayuan;
    2. terserang oleh intimidasi atau teror-teror
      Salah satu ilustrasi hilangnya sabat (keteguhan) ini adalah prinsip hidup kaum muslimin tidak lagi dipegang hanya sering diucapkan tanpa dipraktikkan. Sebagai contoh Islam mengajarkan kebersihan sebagian dari Iman tetapi di negari-negeri kaum muslim kondisinya tidak bersih menjadi pemandangan pada umumnya.

·         Hilangnya Semangat untuk Mengingat Allah (Adamut Dzikriyah)
      Dalam Islam lupa diri sebab utamanya ialah karena lupa kepada Allah. Umat Islam dzikirullah-nya lemah maka mereka kehilangan identitas mereka sendiri sebagai Al Muslimum. Sebagaimana Allah berfirman dalam Qs. Al Hasyr ayat 19, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”.

·         Hilangnya Kesabaran (Adamus Sabr)
      Kesabaran merupakan salah satu pertolongan yang paling pokok bagi keberhasilan seorang muslim, sesuai firman Allah Qs.2:153 “Hai orang-orang beriman mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. Kesabaran meliputi:
a.       Ashabru bitha’at (sabar dalam ketaatan)
b.      Ashabru indal mushibah (ketaatan ketika tertimpa musibah)
c.       Ashabru anil ma’siat (sabar ketika menghadapi maksiat)
          Sebagai umat Islam harus memiliki kesabaran ketiganya.

·         Hilangnya Makna Ikhlas (Adamul Ikhlas)
      Ikhlas tidak identik dengan tulus. Tulus artinya melakukan sesuatu tanpa perasaan terpaksa padahal bisa saja orang itu ikhlas walaupun ada perasaan terpaksa. Contohnya pada seseorang yang melakukan shalat subuh yang baru saja jaga malam sehingga sanat terasa kantuk tetapi karena shalat adalah suatu kewajiban perintah Allah swt ia tetap mengerjakannya, dsb.

·         Hilangnya Komitmen (Adamul Iltizam)
      Dewasa ini kaum muslimin kebanyakan tidak istiqomah berkomitmen terhadap Islam bahkan tidak sepenuhnya sadar bahwa Islam harus menjadi pengikat utama dalam hidupnya sehingga mereka banyak menggunakan isme-isme yang lain.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Spirit yang Hilang

Bismillahirrahmanirrahim...
Sebuah bab dalam buku New Quantum Tarbiyah karya Solikhin Abu ‘Izzuddin itu mengingatkan sekaligus menyemangati kita kembali sebagai kader dakwah untuk selalu ‘bersih’. Baik bersih ruhiyah, fikriyah, maupun jasadiyah. Senantiasa bergerak dan bekerja, karena bagaimana pun kondisinya status menganggur itu rentan dari timbulnya kekosongan aktivitas dakwah. Pada bagian awal bab ini dipaparkan bahwa Rasul dan para pendahulu yang lain selalu bersemangat melakukan perjalanan untuk meng-upgrade dirinya. Maka dari itu kita pun selalu belajar dan berusaha untuk demikian.

Kader dakwah identik dengan kata ‘sibuk’. Namun demikian, kita perlu mengevaluasi apakah kesibukan tersebut bermanfaat atau tidak, karena bisa jadi itu hanya suatu tipu daya yang justru membunuh aktivitas dakwah secara perlahan. Naudzubillah! Kondisi seperti itu penulis beri gelar dalam buku ini, seperti M.Si.: mencelat soko ikhwah, keluar dari ring tarbiyah, M.Sc.: mencelat soko campus, M.M.: mantan murobbi, mantan mutarobbi, dan lain sebagainya.

Jalan dakwah yang sedemikian rumit, licin, dan dinamis tidak menutup kemungkinan jika kader mengatakannya itu berat. Ya, berat itu pasti, karena tidak selalu mudah dilewati. Akan tetapi, penilaian tersebut adalah pilihan. Jika kita memilih jalan yang berat itu adalah nikmat,  maka kita pun pasti menjalaninya dengan berharap itu pasti bermanfaat untuk umat sehingga tidak terasa bahwa Allah selalu menemani kita berjuang.

Sebagai penutup dalam bab ini, penulis menggugah kita untuk berbenah. Memperbaiki yang masih kurang dan belum maksimal untuk memunculkan sesuatu yang menguatkan. Berpikir untuk selalu memberi, berhenti menuntut, berkemauan untuk melakukan, dan kuat bertekad. Seorang ulama salat ketika ditanya, “Apa yang bisa melunturkan tekad?” Beliau menjawab, “Angan-angan yang panjang dan cinta kehidupan yang rileks.”

Wallahu ‘alam bisshawab.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer