Halaman

Sabtu, 11 Juni 2011

Namaku Teweraut: Struktur Sosial dan Budaya

PENDAHULUAN


Karya sastra lahir sebagai bentuk representasi dari kehidupan manusia dan lingkungan semesta. Maka, tidak heran jika dalam perkembangannya mengalami terobosan baru yang sangat pesat. Tidak dipungkiri pula bahwa dunia sastra Indonesia saat ini semakin diminati banyak pihak karena semakin menyentuh sisi kemanusiaan dan dikemas dengan memberikan kemungkinan pilihan jalan keluar atas masalah kehidupan, apapun itu. Ya, sekali pun sesekali muncul permasalahan bahwa sastra yang dianggap tabu adalah kurang pantas dinikmati.
Namun demikian, peneliti akan mencoba menelisik apa yang ada di dalam sebuah karya sastra. Salah satunya adalah novel Namaku Teweraut (NT) yang lahir dari tangan lentik seorang perempuan bernama Ani Sekarningsih. Kajian ini bertujuan untuk menambah wawasan dan pemahaman yang lebih mendalam mengenai stuktur sosial dan budaya NT  dengan tidak mengesampingkan struktur sebagai suatu unsur penting dalam karya sastra yang dinikmati masyarakat luas. Semoga bermanfaat.
Novel NT ini merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang kental dengan aspek-aspek antropologis. NT berhasil memperoleh penghargaan Hadiah Sastra Buku Utama Tahun 2002 dari  Menteri Pendidikan Nasional. Ada hal menarik yang membuat seorang Ani Sekarningsih menulis novel dengan latar Asmat Papua tersebut. Faktor pernah hidup dan pernah mengabdi di Asmat Papua selama beberapa lama membuat Ani merasa tersentuh untuk merekam keeksotisan budaya dan perilaku masyarakat Asmat dalam bentuk fiksi tersebut.
Novel ini bercerita tentang kisah perempuan Asmat yang bernama Teweraut dari lahir sampai meninggalnya, sebuah cerita yang memang khas dengan pengertian roman. Banyak dijumpai hal-hal yang menarik dalam roman ini, mulai dari budaya dan perilaku masyarakat Asmat yang sampai sekarang masih dianut dan perjumpaan budaya lokal Asmat dengan budaya modern luar.

STRUKTURAL
Menurut Abrams, struktural adalah bentuk pendekatan objektif yang memandang karya sastra sebagai sesuatu yang berdiri sendiri dan memiliki dunia sendiri. Mereka merupakan satu kesatuan yang utuh, lengkap, terikat, dan bermakna. Oleh karena itu, yang dikaji oleh teori ini hanyalah unsur intrinsik dengan mengesampingkan unsur lain. Berkaitan dengan hal itu, Teeuw mengungkapkan bahwa pendekatan struktural setidaknya pasti dilakukan oleh peneliti sastra sebelum menuju pada analisis lainnya karena memang merupakan prioritas.
Karya sastra tidak dibentuk secara terpisah, tetapi terjalin dengan unsur lainnya. Atau yang sejak awal kita singgung dengan istilah unsur intrinsik. Dalam perkembangannya, pendekatan struktural dianggap memiliki kelemahan karena telah melepaskan hakikat karya sastra di lain sisi. Mengapa? Karena bagaimana pun juga karya sastra pastilah terpengaruh oleh lingkungan sosial budaya kehidupan masyarakat.
  1. Tema
Novel NT bertema perjuangan perempuan. Perjuangan seorang perempuan Asmat demi kemajuan pendidikan dan hal lainnya bagi masyarakatnya.
  1. Tokoh dan Penokohan
Konsep penokohan terdiri dari tiga dimensi analisis, yaitu fisiologis, sosiologis, dan psikologis. Fisiologis meliputi ciri-ciri lahiriah misalnya umur, jenis kelamin, keadaan tubuh,  ciri-ciri badani, ciri-ciri muka dan lain-lain.  Sosiologis meliputi ciri-ciri kehidupan masyarakat, misalnya, status sosial, pekerjaan, jabatan, pandangan hidup, agama, kepercayaan, dan lainnya. Psikologis meliputi latar belakang kejiwaan tokoh, misalnya, mentalitas, keinginan, perasaan pribadi, sikap, perilaku, kecerdasan, dan lainnya. Pada analisis kali ini, hanya akan dianalisis tiga tokoh yang sering muncul dalam cerita yakni Teweraut, Mama Rin, dan Akatpits.
1.      Teweraut
Teweraut adalah perempuan suku Asmat dengan usia lima belas tahun dengan tinggi sekitar 155 cm dan berat 42 kg, lulusan Sekolah Dasar dan pernah bersekolah di Sekolah Kesejahteraan Keluarga walaupun hanya delapan bulan, anak orang terpandang di sukunya, pemalu, kekanak-kanakan, bangga terhadap sukunya. Berikut kutipannya:
“nDiwiku adalah orang yang terpandang;kondang sebagai mantan panglima perang pada zamannya. Beliau juga ketua klen yang turut mengurusi dan menetapkan setiap jenis upacara ritus, disamping mengurusi hukum dan pemerintahan adat, sehingga beliau masih mendapat jabatan lain sebagai penasehat adat di rumah adat. (NT, hlm. 11)

Selain itu, juga terdapat pada bagian di bawah ini:
“Begitulah, nama panggilanTeweraut sejak awal kukenakan untuk seterusnya, tanpa harus disamarkan dengan nama panggilan lain yang didorong kekhawatiran, bahwa dalam usia balita seorang anak yang masih berpredikat anak roh akan mencari ibu rohnya. Aku juga punya perasaan bangga dengan nama yang menunjuk asal daerahku, walau banyak yang tidak begitu sebenarnya. …” (NT, hlm. 5)


2.      Mama Rin
Berkulit cerah, berambut hitam, perempuan keturunan Jawa priyayi, berdomisili di Jakarta, berpendidikan, sangat tertarik dengan budaya Asmat, memiliki rasa keingintahuan yang tinggi,  mudah bersosialisasi dengan masyarakat Asmat. Dipaparkan dalam kutipan berikut:
“Pengalaman singkat itu menawarkan rangsangan dan gairah Rin untuk menambang pengetahuan, guna lebih memahami orang Asmat. Sejak saat itu beberapa kali ia mengunjungi tempat mereka tinggal, selama keberadaan rombongan kesenian itu di ibukota dan mewawancarai peri kehidupan mereka.” (NT, hlm. 22)
Mama Rin juga memiliki sikap perhatian, berikut ini kutipannya:
“Setiap malam Mama merasa perlu berkeliling, mendatangi kamar masing-masing. Mengecek kebersihan sebelum naik ke tempat tidur. Tubuh siapa yang masih bercoreng kapur, tanah merah, dan jelaga, ditungguinya harus mandi dulu. Praktis kami baru siap tidur pukul 00.30 tengah malam. Ada juga beberapa di antara kami yang tidak segera mau menerima untuk tunduk mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan. Mama Rin menunggui dengan tegas sampai merasa pasti kami semua membersihkan hiasan-hiasan itu dan segera tidur.” (NT, hlm. 22)

3.      Akatpits
“Suasana demikian itulah yang telah merangsang semangat Akatpits untuk mengambil keputusan bekerja di pelabuhan. Ia seolah-olah merasa ditantang untuk memerangi takdir. Hanya pendatangkah yang berpotensi membangun dibanding putra daerah?” (NT, hlm. 238)
Akatpits merupakan suami Teweraut, gagah, kuat, disegani masyarakat Asmat, aktif, mudah bergaul, ramah, dan pemberani.
“Akatpits adalah kepala dusun di cabang sungai besar arah matahari terbit. Sudah beberapa kali dengan tak sengaja aku berkesempatan menangkap kehadirannya bersama kelompok-kelompok dusun. Wajahnya kukuh membayangkan intelejensi tinggi dengan sepasang bola mata yang memancar dari kelopak mata yang cekung. Bentuk tubuhnya boleh dibilang punya penampilan sesuai impianku. Memiliki dada kuat dan kekar, walau sebaliknya bagian tubuh ke bawah tidak berkembang, karena lebih banyak berdayung disbanding berjalan. …” (NT, hlm. 62)

  1. Alur
Alur merupakan keseluruhan rangkaian peristiwa yang terdapat dalam cerita, yang bersifat logis dan kronologis, sehinggga saling berkaitan satu sama lain. Alur novel NT menggunakan alur maju karena cerita berkembang secara berurutan dari awal sampai akhir, yakni mengisahkan perjalanan seorang Teweraut.
  1. Latar
Latar adalah keterangan yang diberikan pengarang, yang berkaitan dengan waktu, ruang atau tempat dan suasana terjadinya peristiwa dalam karya sastra.
1.      Latar Tempat
Novel NT mengambil latar di banyak tempat atau daerah. Tidak hanya di suku Asmat, tetapi juga di Jakarta, Merauke, London, Amsterdam, Paris, New York. Berikut kutipan-kutipannya:
“Ewer, tempatku tinggal, berada di tepi Sungai Pek yang bermuara di Sungai Asuwet. Bukan desa biasa seperti kebanyakannya. Di sana terdapat landasan pacu yang dirintis para misionaris, jauh sebelum aku lahir. Menurut seorang suster senior yang mendiami biara di desaku sekaligus pemandu penerbangan, untuk keperluan pengadaan landsan pacu itu telah dikerahkan banyak lelaku desa meninggikan tanah rawa, Sehingga cukup kukuh dan lebih kering untuk didarati pesawat berpenumpang empat walau tak sebutir kerikil apalagi batu pun ditemui intuk memadatkan wilayah itu.” (NT, hlm. 8)
“Tanpa istirahat yang berarti, setelah perjalanan 5 jam dengan kereta Amsterdam-Paris, langsung kami diantar menuju penginapan, meletakkan tas pakaian kemudian bergegas lagi ke gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa.” (NT, hlm. 122)


2.      Latar Waktu
Dalam novel NT, tidak disebutkan secara jelas waktu terjadinya peristiwa. Namun demikian, terjadi antara tahun  1980-an sampai tahun 2000-an.
“Hal itu juga didorong oleh pengetahuan sejarah. Coba perhatikan ribuan tahun sebelum masehi, orang Mesir telah mengenal keindahan. Berpakaian pantas dan mengenakan perhiasan yang terbuat daripada logam emas, Sementara banyak tatanan kehidupan masyarakat terpencil di Irian Jaya pada tahun 2000 ini, terlupakan orang.” Mama terkendali berpidato panjang. (NT, hlm. 124)

3.      Latar Sosial
Latar sosial yang dikisahkan dalam novel NT yakni berupa adat istiadat, pemakaian bahasa, tradisi, cara berpikir dan bersikap. Terdapat pula tradisi lokal seperti kawin lari, melanggar batas daerah selama bepergian, pergi ke dukun (nDamero) untuk menelisik penyebab kematian, ritual ketika berduka cita, dan sebagainya.
“Perjalanan seharian mendayung dalam keadaan hamil tua rupanya membuatku letih. Sepanjang tulang punggung kurasa pegal-pegal. Aku menyimak kisah itu sambil mencoba berbaring lurus mengurangi rasa ngilu dan melapangkan ganjalan perut yang menyulistkan pernapasan; melihati nDamero Jamenam berkisah, duduk mencangkung memandangi tarian lidah-lidah api sambil memakan sisa karaka yang kubawakan untuknya. Aku cepat tertidur. Tidak sempat menangkap kelanjutan cerita nDamero tentang masa lalu Akatpits.” (NT, hlm. 257-258)
                                       
SOSIAL DAN BUDAYA
Asmat merupakan salah satu nama suku yang terdapat di wilayah Papua. Hutannya sangat berpotensi bagi kehidupan. Struktur kepemimpinan sosial yang berlaku di Asmat ada dua yakni kepemimpinan yang berasal dari unsur pemerintah, dan yang kedua berupa kepala ada atau kepala suku yang berasal dari masyarakat. Kepemimpinan yang kedua inilah yang sangat berpengaruh di lingkungan karean sering dilakukannya upacara adat yang bersifat tradisional.
Dalam kehidupan sehari-hari, mayoritas masyarakat Asmat masih menerapkan pola hidup yang masih primitif dan sederhana dengan mengumpulkan makanan yang berasal dari hasil hutan. Mereka juga merasa gelisah ketika dihadapkan dengan kemodernan di hadapannya.
“Tetapi satu hal mereka lupa, bahwa memperkenalkan nilai-nilai baru menuntut pula peningkatan kualitas SDM-nya, juga pendapatan ekonomi pasar yang tepat dan mudah dipahami masyarakatku. Padahal sampai saat ini mereka masih terbiasa dengan perolehan yang hanya cukup memenuhi keperluan hari ini. Esok adalah milik masa depan yang pantas diperjuangkan besok juga. Mengapa harus repot-repot memikirkan hari esok, sedangkan hari ini saja belum berlalu?” (NT, hlm 202)

Seiring dengan waktu, Asmat mulai dihadapkan pada gempuran budaya sehingga juga menyulitkan mereka melakukan penyesuaian secara wajar. Namun demikian, mereka tetap menghargai dan menjunjung tinggi budaya asli leluhur yang dipercayainya.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan di atas, dapat disimpulkan bahwa novel Namaku Teweraut karya Ani Sekarningsih sangat kental dengan aspek budaya suku Asmat. Sebagai sebuah karya sastra, untuk menelaahnya lebih lanjut, kita bisa memahaminya terlebih dahulu dengan adanya unsur structural di dalamnya. Hal itu agar karya sastra memiliki nilai lebih bagi masyarakat bahwa sebuah karya sastra adalah suatu keutuhan yang bermakna.

DAFTAR PUSTAKA
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sekarningsih, Ani. 2000. Namaku Teweraut. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Tim Estetika FBS UNJ. 2008. Estetika Sastra, Seni, dan Budaya. Jakarta: UNJ Press.





Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

kau, akan tiba di sini pukul berapa?

kau, akan tiba di sini pukul berapa?

kau,
akan tiba di sini pukul berapa
sebelum kewajibanmu selesai
atau setelah aku menulis sajak ini
pasti sama saja
aku sudah akan pergi
membawa semua yang kaupinta

kalau kau bersedih
dan mau menangis selama apa
aku sudah tidak peduli
karena telah kutinggalkan sajak ini
di dalam matamu yang abadi
juga di dalam catatan-catatan lama
yang bungkam dan
gerimis di tengah juni

kau,
akan tiba di sini dengan apa
dengan rapuh dan keluh
atau tangguh itu juga sama saja
aku akan sudah tinggal
di negeri yang baru
dan jangan kau tanyakan alamatnya di mana
karena aku juga tidak tau

kalau kau terus mencari
dan resah tak juga pergi
pulanglah
bunga-bunga di taman belakang
tersenyum buatmu
dan tangan-tangan kecil yang memetiknya
berwajah ranum
di sanalah aku

aku telah bebas menulis apa saja di taman belakang itu
aku telah bebas mencuri bunga apa saja di taman belakang itu

maka, usah lagi kautanya, “Kau, akan tiba di sini pukul berapa?”
           
#Juni, Juli, Agustus, September…


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Rabu, 08 Juni 2011

Mari BeRRsemangaTTT!!!



Tulisan ini disadur dari artikel asli yang berjudul “Semangat Menyambut Panggilan Dakwah” karya Ust. Abdul Muiz, M.A. dari Majalah Tarbiyah Edisi 4 Th. I / Sya’ban-Ramadhan 1424 H/Oktober-November 2003 M. Hmmm, meskipun sudah cukup lama, insya Allah tetap bermakna saat dibaca ulang.

Bismillahirrahmanirrahim...

Kalau kita mendengar kata “militan” nggak jauh dengan sekelompok kata yang merujuk pada “ketangguhan” atau “keseriusan” atau bahkan “prajurit yang sedang berperang.” Iya nggak sih? Iya aja deh. Emang sih kesannya seram, makanya nggak mudah lho untuk menjadi seseorang yang nempel dengan rasa “militan”. Seolah-olah, kalau seseorang sudah militan, pasti jalannya lurus-lurus saja. Tapi, sebelum kita masuk ke bahasan lebih seru, jangan takut dulu ya, tulisan ini nggak akan membuat kita melakukan bom bunuh diri kok!! Hehe... Check this out, bro!!!

Bersemangat dalam menyambut panggilan dakwah menunjukkan adanya keseriusan (jiddiyah) karena keseriusan adalah salah satu ciri kader militan. Keimanan seseorang belum sempurna kecuali apabila mendengar panggilan Allah dan Rasul-Nya segera menyambut panggilan tersebut dengan senang hati dan penuh semangat. Al-Qur’an mengingatkan kita tentang hal itu “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (AI-Anfal:24).

Pasti pernah dengar juga kalimat ini “Sam’an wa tha’atan” (Kami dengar dan kami taati) atau “Labaik wa sa’daik” (Kami siap melaksanakan perintah dengan senang nati).

Para sahabat Rasul di saat menjelang Perang Badar, ketika Rasul ingin mengetahui kesiapan mereka untuk perang menghadapi musyrikin Quraisy, mengingat tujuan awal mereka bukan untuk perang tetapi untuk menghadang kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan, namun kafilah itu berhasil meloloskan diri dari hadangan kaum muslimin, maka Rasul bermusyawarah dengan mereka tentang apa harus dilakukan. Dari kalangan Muhajirin Abu Bakar dan Umar bin Khattab menyambut baik untuk terus maju ke medan pertempuran.

Sedangkan Miqdad bin `Amru mengatakan : “Wahai Rasulullah, laksanakanlah apa yang telah diberitahukan Allah kepadamu, kami tetap bersamamu. Demi Allah kami tidak akan mengatakan kepadamu seperti apa yang dikatakan Bani Israel kepada Nabi Musa,yaitu “Pergilah kamu bersama Rabbmu dan berperanglah, kami tetap duduk di sini”. Tetapi yang kami katakan kepadamu adalah : “Pergilah kamu ber-sama Rabbmu dan berperanglah, kami ikut berperang bersamamu”. Demi Allah yarg mengutusmu membawa kebenaran, seandainya kamu mengajak kami ke Barkul Ghimad (suatu tempat di Yaman, red ) pasti kami tetap mengikutimu sampai di sana.

Setelah sahabat Muhajirin, sahabat Anshar yang diwakili oleh Sa’ad bin Mu’adz menyampaikan sikapnya :”Kami telah beriman kepadamu dan kami bersaksi bahwa apa yang kamu bawa adalah benar, atas dasar itu kami telah menyatakan janji untuk senantiasa taat dan setia kepadamu. Wahai Rasulullah lakukanlah apa yang kau kehendaki, kami tetap bersamamu.Tidak ada seorangpun diantara kami yang mundur dan kami tidak akan bersedih jika kamu menghadapkan kami dengan musuh esok hari. Kami akan tabah menghadapi peperangan dan tidak akan melarikan diri. Semoga Allah akan memperlihatkan kepada kamu apa yang sangat kamu inginkan dari kami. Marilah kita berangkat Ilahi.

Dalam riwayat lain, bahwa Saad bin Muadz berkata kepada Rasulullah, “Barang kali kamu khawatir jika kaum Anshar memandang bahwa mereka wajib menolongmu hanya di negeri mereka. Saya sebagai wakil kaum Anshar menyatakan, jalankan apa yang kau kehendaki, jalinlah persaudaraan dengan siapa saja yang kau kehendaki dan putuskanlah tali persaudaraan dengan siapa saja yang kau kehendaki. Ambillah harta benda kami sebanyak yang kau perlukan dan tinggalkanlah untuk kami seberapa saja yang kamu sukai, apa saja yang kau ambil dari kami itu tebih kami sukai daripada yang anda tinggalkan. Apapun yang kamu perintahkan maka kami akan mengikutinya, demi Allah jika kamu berangkat sampai ke Barkul Ghimad kami akan berangkat bersamamu, demi Allah seandainya kamu menghadapkan kami pada lautan kemudian kamu terjun ke dalamnya maka kamipun akan terjun ke dalamnya bersamamu.

Cakep banget dah jawaban-jawabannya, keren puoolll!!! Like this... J
Lah, terus kenapa bisa begitu? Gimana sih caranya?

Empat Aspek Ruhul Istijabah
1. Istijabah Fikriyah (Menyambut dengan pikiran/dengan sadar).

Kader da
Karena itu para kader da’wah harus memahami, bahwa melaksanakan perintah dan tugas yang datang dari murobbi, pembina atau qiyadah dalam rangka taat kepada Allah karena Allah telah mewajibkan taat kepada pemimpin: “Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul serta (taatilah) pemimpin kamu… ” (An-Nisaa:59). Demi laksananya tugas secara maksimal maka seorang kader selalu memikirkan tentang bagaimana cara melaksanakan tugas dengan baik, maka ia harus memperhatikan waktu, cara dan sarana yang tepat sehingga pekerjaan dapat diselesaikan sesuai perintah, rencana, tujuan serta sasaran yang telah ditetapkan.
Bahkan harus memiliki kemampuan memberikan saran, pendapatdan dan pandangannya demi terselenggaranya program dengan baik, seperti yang dilakukan oleh sahabat Habab bin AI Mundzir ketika mengusulkan tempat yang strategis untuk posisi pasukan kaum muslimin pada perang Badar. Habab berkata, ”Wahai Rasulullah, apakah dalam memilih tempat ini anda menerima wahyu dari Allah sehingga tidak dapat diubah lagi, ataukah strategi perang? tempat ini kupilih berdasarkan strategi perang”. Kemudian Habab berujar kembali “wahai Rasulullah tempat ini tidaklah strategis. Ajaklah pasukan pindah ke tempat air yang terdekat dengan musuh. Kita membuat markas di sana dan menutup sumur-sumur yang ada di belakangnya, kemudian kita buat kubangan dan kita isi dengan air hingga penuh. Dengan demikian kita berperang dalam keadaan mempunyai persediaan air minum”. Rasulullah menjawab, “Pendapatmu sungguh baik “.

Begitu pula, pada saat pasukan koalisi, yang terdiri dari kaum Musyrikin, bangsa Yahudi dan orang-orang Munafik menyerang Madinah, Sahabat Salman Al-Farisi menyampaikan usulannya kepada Rasulullah yaitu menggali parit di sekeliling Mmadinah, kemudian Rasulullah menerima usulan tersebut dan menjadi strategi perang yang ditetapkannya sehingga perang itu diberi nama dengan perang Khandak (parit).

Pada perang Qodisiah, perang antara tentara pasukan Persia, yang terjadi di Irak pada masa pemer-intahan Umar bin Khattab, Qoqo bin Amr terus berpikir untuk menaklukkan pasukan bergajah yang menjadi andalan pasukan Persia. Sampai akhirnya Qoqo mendapatkan sebuah ide, untuk membuat patung gajah, agar kuda-kuda milik kaum Muslimin terbiasa melihat gajah sehingga ketika kuda-kuda itu berhadapan dengan gajah-gajah yang sebenarnya, tidak takut menghadapinya. Ternyata ide Qoqo ini menghasilkan buah. Pada perang Qodisiah tentara kaum Muslimin berhasil menaklukan tentara Persia yang mengandalkan pasukan bergajahnya. Khalifah Umar bin khattab pernah berucap, “Tidak akan terkalahkan kaum muslimin selama di sana ada Qoqo bin Amr”. Dalam surat Ar-Ra’d ayat 19 Allah mengingatkan kita akan keistimewaan orang-orang mengoptimalkan akal pikirannya: “Apakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar, sama dengan orang yang buta (tidak menggunakan akal pikirannya). Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”.

2.  Istijabah Nafsiyah (Menyambut dengan perasaan/emosi).

Para aktivis dan kader dakwah bila mendapat perintah dan tugas, baik tarbawi, da’awi maupun tanzhimi harus menyambutnya dengan perasaan senang, gembira, bahagia dan bersemangat untuk melaksanakannya. Janganlah perintah dan tugas itu disambut dengan rasa berat, malas, enggan dan tidak bergairah. Apapun kondisi yang terjadi pada diri kita, baik dalam keadaan susah, berat maupun kekuatan ma’nawiyah tidak mendukung, apalagi dalam keadaan bergembira.

Bila datang panggilan dakwah kita tidak boleh menolaknya atau merasa enggan dan malas memenuhnya. Allah berfirman: ”Berangkatlah kamu dalam keadaan merasa ringgan ataupun ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah, yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah :41).

Kemudian pada ayat yang lain Allah menjelaskan,”Hai orang-orang yang beriman apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu “Berangkatlah untuk berperang di jalan Allah “; kamu merasa berat dan ingin di tempatmu Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? padahal keni’matan hidup di dunia itu dibandingkan dengan kehidupan di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu “. (At¬Taubah:38-39).

Para kader yang dibina oleh Rasulullah ketika mendengar panggilan jihad mereka berlomba-lomba untuk memenuhinya dengan harapan mendapat kesempatan mati syahid di jalan Allah. Kelemahan fisik tidak menjadi alasan untuk tidak berangkat memenuhi panggilan jihad, bahkan bila mereka tidak dapat memenuhi panggilan jihad karena udzur, mereka menangis. “Dan tidak berdosa atas orang-orang yang apabila datang kepadamu sepaya kamu memberi mereka kendaraan. Lalu kamu berkata :”Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu “. Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan “. (At-Taubah: 92).

Mereka begitu semangat dalam melaksanakan perintah da’wah, perintah tersebut dikerjakan dengan suka cita, riang, gembira serta bahagia, bila mereka dapat melakukannya dengan baik. Sebaliknya, mereka bersedih dan berduka cita bila tidak dapat menjalankan perintah walaupun disebabkan udzur.

3. Istijabah Maaliyah (Menyambut dengan harta).

Dakwah untuk menegakkan dinul Islam muka bumi adalah kerja besar bahkan tidak ada pekerjaan yang Iebih besar darinya. Kerja besar ini membutuhkan dana yang besar pula sebagaimana lazimnya proyek besar. Dalam proyek dakwah pendanaan ditanggung oleh para dai sendiri. Berkorban dengan harta dan jiwa sudah menjadi satu paket yang tidak boleh dipisahkan satu dari yang lainnya. Seperti apa yang Allah rmpaikan dalam Qur’an, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka… ” (At-Taubah : 111).

Kemudian ayat lain Allah menjelaskan, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan imu dari azab yang pedih ?Yaitu, kamu beriman pada Allah dan RasuI-Nya dan berjihad di jalan Alllah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. ” (As-Shaff : 10- 11).

Kader dakwah tidak pelit dengan hartanya untuk pembiayaan berbagai kegiatan da’wah dalam dakwah para kader dan aktivis siap mengorbankan hartanya, jangan mengharapkan keuntungan materi serta harta benda dari dakwah. Khadijah isteri Rasulullah telah memberikan seluruh kekayaannya untuk kepentingan dakwah. Pada perang tabuk kaum uslimin berlomba-lomba menginfakkan hartanya dan bersodaqah. Usman bin Affan sebelumnya telah menyiapkan kafilah dagang yang akan berangkat ke Syam berupa dua ratus onta lengkap dengan pelana serta barang-barang yang berada di atasnya, beserta dua ratus uqiyyah. Setelah mendengar pengumuman Rasulullah, Usman datang pada Rasul kemudian men-shadaqah-kan semua itu.

Kemudian Usman menambah lagi seratus onta dengan pelana dan perlengkapannya. Kemudian beliau datang lagi membawa seribu dinar diletakkan di pangkuan Rasulullah. Rasulullah memperhatikan apa yang dishadaqahkan oleh Usman itu seraya berkata: “Apa yang diperbuat oleh Usman setelah ini, tidak akan membahayakannya”.

Usman terus bershadaqah hingga jumlahnya mencapai sembilan ratus ekor onta dan seratus ekor kuda, belum termasuk uang. Setelah Usman selesai memberikan shadaqah, giliran Abdur Rahman bin Auf datang membawa Dua ratus uqiyyah perak, tak lama setelah Abdur Rahman, datanglah Abu Bakar dengan membawa seluruh hartanya yang jumlahnya Empat ribu dirham, sampai-sampai beliau tidak menyisakan hartanya untuk keluar-ganya kecuali Allah dan Rasulnya. Kemudian sahabat-sahabat yang lain berdatangan. Umar menyerahkan setengah hartanya. AI-Abbas datang menyerahkan hartanya yang cukup banyak. Thalhah, Sa’ad bin Ubadah, Muhammad bin Maslamah semuanya datang menyerahkan shadaqahnya. Tidak ketinggalan Ashim bin Adi datang menyerahkan sembilan puluh wasaq kurma. Kemudian diikuti sahabat yang lain mulai dari yang scdika sedikit sampai yang banyak. Sampai ada di antara mereka yang berinfaq dengan segenggam atau dua genggam kurma, karena hanya itu yang mereka mampu lakukan.

Kaum wanitapun menyerahkan berrbagai perhiasan yang yang mereka miliki, seperti gelang tangan, gelang kaki, anting-anting dan cincin. Tidak ada seorangpun yang kikir menahan hartanya kecuali orang-orang Munafq. Allah berfirman : “Orang-orang Munafiq yang mencela orang-orang Mu’min yang memberi shadaqah dengan sukarela, dan merekapunv menghina orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dishadaqahkan sekedar kesanggupannya “. (At -Taubah :79)

4. Istijobah Harakiyah (Menyambut dengan aktivitas)

Aktivis dakwah adalah yang orang aktif dalam kegiatan dakwah, selalu hadir dalam kegiatan dakwah dan berusaha untuk berada di barisan orang-orang mengutamakan kerja daripada berbicara. Bahkan berupaya untuk berada di garda terdepan dalam mempertahankan dan membela Islam. Perlu diingat, tugas dakwah yang diemban aktivis sangat banyak., lebih banyak dari waktu yang tersedia.

Tugasnya antara lain,
Pertama           : Kewajiban dalam tarbiyah, bertujuan agar kualitas dan mutu kader semakin baik.
Kedua             : Kewajiban dalam dakwah, bertujuan agar penyebaran dakwah semakin luas.
Ketiga             : Kewajiban yang sifatnya tanzhimiyah, bertujuan agar amal jama’i stuktural semakin kokoh.

Melihat kondisi saat ini, dimana tuntutan da
kwah begitu besar, yang disertai ancaman global, tentu hal ini, menuntut kesungguhan, keseriusan serta mobilitas dakwah dan jihad yang tinggi, jika tidak maka kekuatan batil yang akan berkuasa di bumi ini. Dalam hal ini, Allah berfirman, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan, ikutilah agama orang tua Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan begitu pula dalam al-Qur’an ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung”. (AI-Hajj :76 ).

*Mari kita tutup dengan muhasabah...
Ikhwah dan akhwat fillah, sudahkah pikiran kita terkonsentrasikan dan terfokuskan untuk memikirkan umat, memikirkan bagaimana cara yang efektif dalam melakukan da’wah untuk mereka. Sudahkah kita menyumbangkan pendapat, gagasan dan ide terbaik untuk kemajuan dakwah. Sudahkah kita mempersembahkan kreativitas untuk pengembangan dakwah yang lahir dari hasil kajian, telaah, renungan dan evaluasi kerja da’wah saat ini?!.
Ikhwah dan Akhwat fillah, sudahkah kita merasa gembira senang dan bahagia mana kala kita mendengar perintah, menerima tugas dan mendapatkan amanah da’wah.Apakah kita merasa bersedih, menangis dan merasa rugi jika kita tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik, tidak dapat ikut dalam kegiatan da
k
wah di saat uzur. Menyesalkah kita jika tidak dapat menyelesaikan tugas dengan baik ?!
Ikhwah dan Akhwat fillah, sudahkah kita mengeluarkan sebagian dari rizki yang kita dapatkan untuk kepentingan da
kwah. Sudahkah kita berniat dan berazzam untuk menginfaqkan harta kita di jalan Allah? Sudahkah kita miliki tabungan dak
wah?
Ikhwah dan Akhwat fillah, betulkah kita sebagai aktivis da
kwah, apa buktinya? Apa kontribusi riil kita untuk dakwah? Apa prestasi dakwah kita selama ini? Sudah berapa orang yang telah kita rekrut melaui dakwah fardiyah atau dakwah jamahiriyah? sudah berapa orang kader yang kita tarbiyah? Sudahkah kita menjadikan waktu, kerja, profesi dan seluruh aktivitas kita sebagai kegiatan dak
wah ?!
Ikhwah dan Akhwat fillah, keimanan kita baru diakui oleh Allah apabila ada ruhul istijabah pada diri kita, dan baru akan sempurna iman kita jika aspek-aspek istijabah itu telah terpenuhi. Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan terhadap orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka sebelum mereka berhijrah, akan tetapi jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan pembelaan agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada ikatan perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “. (AI-Anfal : 72). ”Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan kepada orang-orang muhajirin, mereka itulah orang-orang yang bena
r-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan, rizki (nikmat ) yang mulia “, (Al-Anfal : 74)

Wallahualam bisshawab... J

kwah ketika mendapat tugas dari murobbi, pembina, maupun qiyadah tidak hanya sekadar melaksanakan perintah dan tugas, tetapi ia sadar betul apa yang dikerjakannya adalah dalam rangka taat kepada Allah dan meraih ridho-Nya, bila dilakukan mendapat pahala dan bila tidak dilakukan dosa.

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Rabu, 01 Juni 2011

Kertas Warna

di sela-sela mengawas SNMPTN, hp bergetar, pesan masuk!

sinta
01/06/2011
08.46

Bahkan burung-burung kertas yang kubuat tidak pernah dapat terbang ke langit. Jadi bagaimana bisa dia mengirimkan doa yang kurapal pada setiap lipatannya.

Ke:
sinta
01/06/2011
09.01
orisuru

sinta
01/06/2011
09.15
Hah?

Gara-gara sms Sinta, saya jadi mencari buku catatan dan pulpen. Teringat juga dengan orisuru yang ada di Perempuan Kembang Jepun! Hmm...


kertas warna

kita pernah melipatnya pada sebuah bayang
aku mengulangnya sekali lagi
biar kamu puas
biar kamu tahu kalau aku bekerja
hanya bisa seperti itu
karena aku tak mampu berbuat apa-apa

nah, itu di hadapan kita ada sebuah
kertas warna yang halus
lalu kaupinta aku melipatnya seperti dulu sesukamu
seperti pada sebuah bayang melintang yang kauhafal
benar itu siapa!

apakah itu wajahku
atau wajahmu yang tertukar
dan menjelma sayap orisuru
tapi kemudian kita tidak pernah bisa terbang
hanya mampu saling memapah dan berkata rindu
: aku hanya selembar kertas warna
dan kamu

di sebelahku
anak kecil berteriak pekak, “Kak! Itu kertas warna punyaku!”

01/06/2011     09.25


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Selasa, 31 Mei 2011

Superment (Super Mentoring Training) yuhuu…

Hari/Tanggal : Sabtu, 28 Mei 2011
Tempat         : Ruang O 101-102 FBS UNJ
Pembicara     : Ust. Sri Mudji (0856 9315 0263, 3363 5949)

Setelah izin terlebih dulu kepada panitia bahwa saya tidak bisa mengikuti acara tersebut hingga selesai, akhirnya catatan ringkas ini pun dibuat. Lumayanlah untuk dibaca ulang, daripada tuh catatan jadi lembaran yang mudah hilang.
“Membina ibarat menggosok batuan mulia di mana dia butuh teori, seni, dan pengalaman. Plus, landasi dengan keikhlasan. Hasilnya…. Paten!”
Mengapa mesti membina? Mau tau jawabannya? Jamaah… oh… Jamaah...!!! Hehe J
Coba intip di Al Baqoroh 195, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”
Eits, ternyata masih ada jawaban lainnya dari Ust. Sri Mudji. Mau tau? Kita lihat iklan dulu yaaa… J

(CERITANYA IKLAN YA!)

Jamaah… oh… Jamaah…! Simak yaa..
1.      Kontribusi
Peribahasa Arab, “Siapa tidak menambah sesuatu di bumi, maka ia adalah beban bagi bumi.”

2.      Active Income
“Siapa yang menunjukkan pada kebaikan, maka ia mendapat seperti pahala orang yang melaksanakan kebaikan tersebut.” (HR. Muslim

3.      Kualitas Hidup
Al Bayyinah 6-7, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk

4.      Kepahlawanan
Nyata, dalam hidup ini kita memerlukan tokoh untuk dijadikan sebagai teladan. Dan tidak dipungkiri pula bahwa kita suatu waktu perlu menjadi tokoh teladan bagi orang lain. Misalnya, Sultan Muhammad Al Fatih dicontohkan sebagai salah satu tokoh teladan milik Islam (dalam kisah Konstantinopel)

Murabbi itu….
1.      Walid (orang tua) dalam hubungan emosional.
2.      Syaikh (bapak spiritual) dalam tarbiyah ruhiyah.
3.      Ustadz (guru) dalam mengajarkan ilmu.
4.      Qaid (pemimpin) dalam kebijakan umum dakwah.

Suplemen yang baik untuk mentor adalah memiliki daya sentuh, daya gugah, dan daya ubah!  Kelompok yang baik adalah kelompok yang seimbang antara dinamisasi dengan produktivitas!

Menurut KH. Rahmat Abdullah, murabbi ideal itu…
1.      Paling kokoh sikapnya
2.      Paling lapang dadanya
3.      Paling dalam pemikirannya
4.      Paling luas cara pandangnya
5.      Paling rajin amal-amalnya
6.      Paling solid penataan organisasinya
7.      Paling banyak manfaatnya

Ayo, cintai binaan kita! Perhatikan dengan hati! J
Nah, itu dia ringkasannya, saya nggak sempat ikut sesi tanya jawab. Kenapa? Mau tau aja… Hehe J


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Senin, 30 Mei 2011

Surat kepada Ikhwatifillah

 Dibaca ulang, semakin terpekur! Astaghfirullah...

 

 

Sinergisitas Antara Amal Dakwah, Akademik, dan Skill

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Kutuliskan surat ini dengan penuh mengharapkan keikhlasan kepada Allah, dan saya senantiasa berharap agar Allah selalu mempersatukan batin kita hanya dalam kenikmatan dalam jamaah ini. Semoga ini menjadi salah satu bukti atau minimal menjadi bukti kecil perhatian para alumni terhadap dakwah antum disana, di kampus tercinta. jangan pernah sekali-kali berpikir bahwa alumni telah melupakan dakwah antum di kampus tercinta, tidak, tidak sama sekali... ingatlah, jika sekali waktu antum menemui kesulitan dalam mengemban amanah mulia ini maka jangan ragu-ragu untuk hubungi kami, insya Allah kami akan senantiasa membantu sesuai dengan kapabilitas kami masing-masing. Walau kita tidak lagi dipersatukan secara fisik, tapi ingatlah ikhwah fillah, doa rabithah yang senantiasa kita baca bukan tidak membekas, bahkan sangat! dan persaudaraan kita telah dipersatukan oleh Allah, kita hanya ingin menjadi seperti yang telah disebutkan Allah dalam hadist, dua orang pemuda yang bertemu dan berpisah hanya karena Allah... semoga Allah memasukkan kita dalam golongan tersebut. Allahumma amien…

Ikhwatifillah,
Dakwah, akademik, dan skill adalah tiga mata rantai yang harusnya tidak bisa terpisahkan dalam pribadi seorang dai. ketika kita menyebut pribadi dai maka harusnya yang terbayang di benak kita adalah bukan hanya pribadi yang menghabiskan waktunya hanya dalam masalah dakwah semata, tapi dia melupakan sisi akademik dan skill kemahasiswaannya.

Seorang dai harusnya tawazun dalam ketiga hal tersebut. tawazun adalah tidak sama dengan seimbang. Jika diibaratkan angka seratus, tawazun bukan berarti 33 1/3 persen untuk dakwah, 33 1/3 persen untuk akademik, dan 33 1/3 persen untuk skill tapi tawazun adalah proporsional. Ada kalanya kita harus mencurahkan seluruh potensi kita hanya untuk akademik di suatu waktu, tapi di waktu lain kita harus mengerahkan seluruh potensi diri kita untuk dakwah dan begitu juga dengan pengembangan skill.

Ketika kita sedang kuliah, maka kerahkanlah perhatian kita hanya untuk mendengar apa yang disampaikan dosen dalam kelas. Akan salah kalau ketika menerima mata kuliah kita berpikir tentang hal lain. Begitu juga ketika ada sebuah amanah dakwah yang harus kita selesaikan, maka selesaikanlah dengan baik, jangan sampai dicampur dengan permasalahan di luar permasalahan dakwah yang sedang kita hadapi

Dari berbagai macam pengalaman, justru saat kita tidak bisa tawazun maka berbagai macam qadhoya mulai bermunculan… Qadhoya tersebut akhirnya hanya akan menghambat perkembangan dakwah kampus dengan atau tanpa kita sadari. Bukankah jika kehilangan seorang aktivis dakwah maka sedikit banyak akan menghambat pertumbuhan dakwah kampus?

Bagaimana caranya untuk bisa tawazun? Ini yang butuh sikap konsistensi kita terhadap apa yang telah kita rancang. Di atas ana telah sebutkan, bahwa ketika antum sedang menghadapi sebuah permasalahan maka curahkan semua perhatian hanya pada masalah yang bersangkutan, jangan dicampur aduk dengan yang lain. Dan ingatlah ikhwah, jika kita bisa mempelajari sebuah permasalahan hanya 2 jam, maka jangan habiskan waktu 3 jam untuk menyelesaikannya! Jika kita mampu menyelesaikan permasalahan organisasi hanya dengan 1 hari maka sekali lagi jangan habiskan waktu 2 hari untuk menyelesaikannya!

Sekarang berkembang sebuah permasalahan di kalangan aktivis, bahwa mereka mempunyai waktu yang sangat kurang dalam menyelesaikan sebuah permasalahan. Kalau menurut ana, hal itu tidaklah sepenuhnya benar. Mari kita lihat ke belakang, seberapa efisienkah waktu yang telah kita pergunakan. Tentu banyak sekali waktu yang kita buang percuma.

Lalu di antara ketiga itu mana yang penting? Tidak ada sesuatu hal yang menempati tingkatan lebih penting jika dibandingkan dengan yang lain. Ikhwah fillah, dakwah adalah sebuah kewajiban hidup, tidak hanya bagi kita yang telah menamakan diri kita sebagai aktivis dakwah, bahkan seluruh umat Islam pun diwajibkan untuk berdakwah… “Barangsiapa yang bangun di pagi hari dan tidak memperhatikan keadaan ummatku, maka sungguh dia bukan golonganku” hadist itu menjadikan bukti konkret bahwa dakwah adalah keniscayaan bagi seluruh umat Islam apalagi kita, aktivis dakwah kampus!

Akademik dan skill, siapa yang bilang kalau itu pun tidak wajib untuk kita pelajari. Kita sedang kuliah di fakultas teknik, ada tuntutan lebih dari Islam terhadap kita. Selain berdakwah, kita juga dituntut untuk mahir dalam bidang yang kita kuasai sehingga nanti kita bisa menguasai dunia dengan ilmu yang kita miliki. Allahumma amien. Ana membayangkan bagaimana kalau nanti kampus putih biru yang terletak jauh dari ujung bandung, melahirkan purnamahasiswa yang mengusai teknologi dengan sangat dan tidak pernah lupa mendirikan qiyamullail dan senantiasa berdakwah. Subhanallah ! bukankah itu azzam kita bersama.

Ketika antum memasuki dunia kerja. Ketiga hal itu pun sangat dipakai. Jika antum mulai dari sekarang sudah berazzam untuk menjadi pegawai di sebuah perusahaan besar yang berskala nasional dan multinasional maka siapkan IPK minimal 3.00. Saat itu antum akan merasakan bahwa IPK (akademik) sangat berperan. Setelah antum menjadi pegawai, antum harus berinteraksi dengan rekan kerja yang lain, hal demikian harus antum lakukan untuk bisa dipromosi.. Di sinilah sangat dibutuhkan kemampuan manajerial dari antum… mulai fase ini IPK sudah tidak begitu diperhatikan lagi karena yang diperhatikan adalah sejauh mana kecakapan antum dalam menyelesaikan pekerjaan dan kemampuan antum dalam berinteraksi dengan rekan kerja.

Banyak orang terlena dengan kerjaannya… Seluruh hidupnya seolah-olah hanya dihabiskan untuk mencari duit semata. Bayangkan bangun jam 6 pulang sehabis isya tidakkah ini melelahkan. Banyak diantara mereka yang kehilangan jati diri mereka karena dunia telah menghiasi hidup mereka… Saat inilah ikhwah fillah, tarbiyah sangat berperan. Ruhiyah antum sangat berperan. Tarbiyah yang baik akan mampu menjaga antum dari kejadian di atas. Antum tetap akan menjadi seorang jundi yang sebenarnya mempunyai sebuah misi khusus dimana pun antum berada sehingga antum akan sangat mudah menjadikan semua wasilah kerja untuk meningkatkan pertumbuhan dakwah.

Begitulah kira-kira ikhwah, gambaran sinergisitas antara dakwah, akademik, dan skill semoga paparan singkat ini menjadi persiapan khusus buat antum yang sedang mengeluti permasalahan akademik dan dunia dakwah kampus.

Tetap istiqamah, teruskan perjuangan yang telah diwarisi oleh generasi sebelumnya. Yakinilah setiap fase itu mempunyai permasalahan masing-masing yang hanya dapat diselesaikan dengan cara masing-masing. jangan memperbesar masalah yang kecil, segeralah dalam melakukan amal, insya Allah dengan cara itu dakwah kampus akan berkembang dan semoga Allah mencatat amal dakwah antum sehingga antum dengan bangga dapat menunjukkannya di hadapan Allah ketika yaumul akhir kelak.. Allauhumma amien.


(diambil dari sebuah blog, afwan ana lupa alamatnya)




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer