Halaman

Jumat, 22 April 2011

Kita Berhak Menjadi Baik...



Lama-lama hujan tidak asing
kalau kamu terus menangis di tengah derasnya.

Ambillah segenggam luka, lalu kamu tengadahkan tanganmu di sana.
Aku ada... aku ada bersama senyumku.
Menjadi pendar yang bahkan mungkin tidak seberapa.

Baik, bawa aku pergi, aku ingin!
Aku ingin menjadi tenang yang mengimbangimu
berlayar di laut kehidupan.

Jika sampai karam, entah di mana meski kucari jalan
agar ukhuwah kita tetap abadi sebab aku yakin.

Yakin, bahwa siapa pun berhak menjadi baik.

Maka, jangan tertawakan aku, jangan tinggalkan aku,
ketika aku masih jauh dari baik.

Setuju, cinta?
Aku sayang kamu, sayang ukhuwah kita...


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Ahwul ul-Muslim al-Yaum

Tulisan di bawah ini adalah saduran dari artikel asli yang ditulis oleh Ust. M Ihsan Arliansyah Tanjung. Semoga bermanfaat ya, Sob!! ^^
Ahwul ul-Muslim al-Yaum, apaan siiii? Yuk, disimak...

Ternyata, judul di atas kurang lebih begini, suatu upaya untuk menggambarkan keadaan dunia Islam kontemporer (saat ini) dengan segala kelebihan dan kekurangan-kekurangannya. Kondisi umat Islam saat ini penuh dengan kelemahan-kelemahan. Kelemahan-kelemahan itu terkait dengan kapasitas intelektual dan problematika moral. Ada apa aja ya?

A.  Kelemahan dalam Kapasitas Intelektual (Al Jahlu)
  • Lemah dalam Pendidikan (Dho'fut Tarbiyah)
Kelemahan ini bisa kita rasakan dari pendidikan agama Islam yang sangat minim di sekolah formal. Sekali pun ada, ternyata juga masih sangat kurang. Maka dari itu, kita perlu bersama-sama menyajikan Islam dan tarbiyah (pendidikan) dengan mengubah pribadi dan lingkungan sekitar. Semoga dengan cara itu, kapasitas intelektual bisa muncul kembali.

  • Lemah dalam Ilmu Pengetahuan (Dho'fut Tsaqofah)
Kelemahan jenis ini juga merupakan pilar mundurnya kebangkitan Islam. Rendahnya semangat dan kemauan untuk belajar yang berlarut-larut membuat Islam akan semakin terpuruk. Menjadi serasi, jika tsaqofah Islamiyah ini juga didukung dengan pengetahuan umum yang memadai baik politik, ekonomi, kemasyarakatan, dan yang lainnya. Hal itu pun perlu dipahami bahwa seluruhnya merujuk pada Alquran dan sunnah. Mengapa? Sebab, jika hal itu dilupakan, apakah bedanya dengan kepercayaan jaliliyah?

·         Lemah dalam Perencanaan-Perencanaan (Dho'fut Takhthith)
Agaknya benar kata mutiara yang berbunyi: gagal merencanakan = merencanakan kegagalan. Mengapa bisa demikian? Hmm, jelas ya... Bagaimana kita akan pergi ke suatu tempat, tetapi tidak tahu rutenya? Rawan tersasar kan? Nah, setidaknya begitu. Dakwah ini juga bagaikan sebuah perjalanan, yang bahkan tidak kita tahu di mana ujungnya. Maka, jangan heran jika di tengah-tengah kita berjalan tanpa pikiran, tanpa wawasan, tanpa perencanaan, tanpa pola-pola yang indah. Bayangkan saja, jika “tanpa-tanpa” itu terus hinggap dengan kata bernama kebaikan. Dengan demikian, mari kita rencanakan bersama, melakukan pembinaan yang berisi, bukan pembinasaan yang berarti. Semoga!

·         Lemah dalam Pengorganisasian (Dho'fut Tanzim)
Ternyata kelemahan tidak hanya berhenti pada kelemahan dalam perencanaan, tetapi juga dalam hal pengorganisasian. Ali ra berkata, “Kebenaran tanpa sistem yang baik akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi dengan baik.” Mari kita evaluasi, sudahkah kita menyumbang kelemahan ini dalam kerja kita?

·         Lemah dalam Keamanan (Dho'ful Amniyah)
Upaya proteksi yang memadai menjadi penting bagi umat Islam. Kenyamanan setidaknya membuat kita sedikit demi sedikit menjadi lengah akan keamanan diri dan kekayaan baik moral dan material. Oleh karena itu, mari kita jaga, kita amankan aqidah kita dari serbuan budaya jahil.

·         Lemah dalam Memobilisasi Potensi-Potensi Diri (Dho'fut Tanfidz)
Untuk mengoptimalkan peran kita dalam kebangkitan Islam, kita harus memahami dan menyalurkan potensi diri. Mengapa? Karena jika ini mampu kita munculkan, tidak hanya sebagai ungkapan syukur tetapi juga menjadi suatu kekutan yang bisa diandalkan oleh umat, apalagi jika dimobilisasi secara kolektif...

B.   Kelemahan dalam Problematika Moral (Maradun Nafs)


         Akhlak sebagai cermin muslim sudah dicemari oleh berbagai akhlak jahiliyah yang dilandasi oleh budaya dan gaya hidup masyarakat jahiliyah. Banyak didapati muslim yang secara statusnya masih sebagai muslim tetapi tidak mencerminkan lagi akhlak Islam yang susah dibedakan dengan mereka yang bukan muslim. Keadaan demikian tidaklah mustahil mengingat ghazwul fikri (perang pemikiran) yang sangat kuat saat ini. Kelemahan yang termasuk bagian di atas adalah:
·         Hilangnya Keberanian (Adamus Saja’ah)
      Umat Islam tidak seperti dahulu yang berprinsip laa marhuba illalah (tiada yang ditakuti selain Allah) sehingga tidak memiliki keberanian seperti orang-orang terdahulu yakni Rasulullah dan para sahabatnya yang terkenal pemberani. Sekarang ini umat Islam mengalami penyakit Al Juban (pengecut). Rasa takut dan berani itu berbanding terbalik sehingga jika seorang umat Islam takut kepada Allah maka ia akan berani kepada selain Allah tetapi sebaliknya jika ia takut kepada selain Allah maka ia akan berani menentang aturan-aturan Allah SWT.

·         Hilangnya Sikap Teguh Pendirian (Adamus Sabat)
      Umat Islam mulai memperlihatkan mudah mengalami penyimpangan-penyimpangan dan perjalanan hidupnya karena disebabkan oleh :
    1. termakan oleh rayuan-rayuan;
    2. terserang oleh intimidasi atau teror-teror
      Salah satu ilustrasi hilangnya sabat (keteguhan) ini adalah prinsip hidup kaum muslimin tidak lagi dipegang hanya sering diucapkan tanpa dipraktikkan. Sebagai contoh Islam mengajarkan kebersihan sebagian dari Iman tetapi di negari-negeri kaum muslim kondisinya tidak bersih menjadi pemandangan pada umumnya.

·         Hilangnya Semangat untuk Mengingat Allah (Adamut Dzikriyah)
      Dalam Islam lupa diri sebab utamanya ialah karena lupa kepada Allah. Umat Islam dzikirullah-nya lemah maka mereka kehilangan identitas mereka sendiri sebagai Al Muslimum. Sebagaimana Allah berfirman dalam Qs. Al Hasyr ayat 19, “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”.

·         Hilangnya Kesabaran (Adamus Sabr)
      Kesabaran merupakan salah satu pertolongan yang paling pokok bagi keberhasilan seorang muslim, sesuai firman Allah Qs.2:153 “Hai orang-orang beriman mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. Kesabaran meliputi:
a.       Ashabru bitha’at (sabar dalam ketaatan)
b.      Ashabru indal mushibah (ketaatan ketika tertimpa musibah)
c.       Ashabru anil ma’siat (sabar ketika menghadapi maksiat)
          Sebagai umat Islam harus memiliki kesabaran ketiganya.

·         Hilangnya Makna Ikhlas (Adamul Ikhlas)
      Ikhlas tidak identik dengan tulus. Tulus artinya melakukan sesuatu tanpa perasaan terpaksa padahal bisa saja orang itu ikhlas walaupun ada perasaan terpaksa. Contohnya pada seseorang yang melakukan shalat subuh yang baru saja jaga malam sehingga sanat terasa kantuk tetapi karena shalat adalah suatu kewajiban perintah Allah swt ia tetap mengerjakannya, dsb.

·         Hilangnya Komitmen (Adamul Iltizam)
      Dewasa ini kaum muslimin kebanyakan tidak istiqomah berkomitmen terhadap Islam bahkan tidak sepenuhnya sadar bahwa Islam harus menjadi pengikat utama dalam hidupnya sehingga mereka banyak menggunakan isme-isme yang lain.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Spirit yang Hilang

Bismillahirrahmanirrahim...
Sebuah bab dalam buku New Quantum Tarbiyah karya Solikhin Abu ‘Izzuddin itu mengingatkan sekaligus menyemangati kita kembali sebagai kader dakwah untuk selalu ‘bersih’. Baik bersih ruhiyah, fikriyah, maupun jasadiyah. Senantiasa bergerak dan bekerja, karena bagaimana pun kondisinya status menganggur itu rentan dari timbulnya kekosongan aktivitas dakwah. Pada bagian awal bab ini dipaparkan bahwa Rasul dan para pendahulu yang lain selalu bersemangat melakukan perjalanan untuk meng-upgrade dirinya. Maka dari itu kita pun selalu belajar dan berusaha untuk demikian.

Kader dakwah identik dengan kata ‘sibuk’. Namun demikian, kita perlu mengevaluasi apakah kesibukan tersebut bermanfaat atau tidak, karena bisa jadi itu hanya suatu tipu daya yang justru membunuh aktivitas dakwah secara perlahan. Naudzubillah! Kondisi seperti itu penulis beri gelar dalam buku ini, seperti M.Si.: mencelat soko ikhwah, keluar dari ring tarbiyah, M.Sc.: mencelat soko campus, M.M.: mantan murobbi, mantan mutarobbi, dan lain sebagainya.

Jalan dakwah yang sedemikian rumit, licin, dan dinamis tidak menutup kemungkinan jika kader mengatakannya itu berat. Ya, berat itu pasti, karena tidak selalu mudah dilewati. Akan tetapi, penilaian tersebut adalah pilihan. Jika kita memilih jalan yang berat itu adalah nikmat,  maka kita pun pasti menjalaninya dengan berharap itu pasti bermanfaat untuk umat sehingga tidak terasa bahwa Allah selalu menemani kita berjuang.

Sebagai penutup dalam bab ini, penulis menggugah kita untuk berbenah. Memperbaiki yang masih kurang dan belum maksimal untuk memunculkan sesuatu yang menguatkan. Berpikir untuk selalu memberi, berhenti menuntut, berkemauan untuk melakukan, dan kuat bertekad. Seorang ulama salat ketika ditanya, “Apa yang bisa melunturkan tekad?” Beliau menjawab, “Angan-angan yang panjang dan cinta kehidupan yang rileks.”

Wallahu ‘alam bisshawab.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Organisasi dan Kader Anti AIDS

Bismillahirrahmanirrahim...
Sebuah artikel singkat dari seorang guru tarbiyah bernama Fathi Yakan ini, yang berjudul Aids Haraki, mengingatkan kita kembali tentang urgensi kader yang ‘bersih’ yang mampu memperkuat bangunan organisasi dakwahnya di mana pun berada. Sebuah kutipan yang diambil dari dakwatuna.com, bertuliskan:
Aku gemakan sebuah gaung kewaspadaan terhadap kerusakan yang melingkupi dan bahaya yang mengancam. Itulah wabah Aids Haraki yang menggerogoti bangunan harakah dan tanzhim serta menghacurkannya menjadi puing. Sebuah wabah yang diingatkan Al-Qur’an dengan tegas: “…dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatan…”
Naudzubillahi min dzalik, semoga kita bukan merupakan bagian yang termasuk di dalamnya. Amin.
Secara umum artikel Aids Haraki ini memperingatkan kita bahwa seorang kader baik itu (baik qiyadah maupun jundiyah) memiliki batas-batas wajar yang tidak mengurangi keprofesionalannya. Ada hal-hal yang harus dipahami bersama bahwa organisasi dakwah, apalagi yang bersinggungan langsung dengan perpolitikan adalah sesuatu yang bisa dikatakan riskan akan terjadinya perpecahan. Maka dari itu, kita sebagai kader dakwah perlu memiliki sikap loyalitas yang tinggi terhadap tujuan dakwah bersama dan niat karena Allah semata, bukan yang lainnya.
Kader sebagai subjek dakwah, idealnya mampu memberikan manfaat bagi organisasi. Kuantitas yang banyak tidak bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan kerja jika justru berpotensi memperbanyak ‘tugas’ sang qiyadah. Namun demikian, hal itu bisa menjadi baik jika diperkaya dengan kader yang berkualitas dan sehat.
Kita pahami bersama bahwa organisasi dakwah terutama yang masuk melalui perpolitikan, adalah lahan dakwah yang tidak selalu nyaman disinggahi. Bisa kita temukan berbagai kepelikan di dalamnya, apalagi jika sudah menyangkut dengan pihak-pihak lain yang mencoba mengobrak-abrik sistem kerja dakwah, budaya-budaya Islam, yang sudah kita bangun sebelumnya. Dalam situasi seperti itu, apa yang seharusnya kita lakukan?
Keterpurukan memang tidak pernah kita inginkan. Maka yang bisa kita lakukan adalah dengan meningkatkan sistem ‘kekebalan’ tubuh kita, tubuh-tubuh ruhiyah kita, tubuh-tubuh dakwah kita dari apa yang Fathi Yakan sebut sebagai Aids Haraki. Sebuah penyakit yang mungkin akan membuat kita lupa dan sakit yang berkepanjangan. Tidak ada obat selain mencegahnya. Oleh karena itu, mari kita sehatkan ruhiyah dan jasadiyah demi terbentuknya organisasi dakwah yang kuat dan berkarakter, yang memiliki kader cerdas dan anti Aids. Wallahu ‘alam bisshawab.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Sepucuk Cinta


menanti kala sang rembulan bersinar keemasan
penuh rasa bangga, semoga cepat kumenatapnya.

dan kuperoleh kata-kata mutiara
di selubung sepertiga malam yang bening itu. segar.
semerdu nyanyian nyiur
yang sujud menghamba pada tikar-tikar lusuh
yang dipinjamkan terik siang tadi.

sepucuk cinta dalam keheningan,
kuilhami bagai nikmat yang lebih dari asa
yang terbangun lepas.

saat-saat itu Dia temukanku dalam
penghambaan yanga khusyu’.
sendu yang menderu.
juga syahdu. hingga hanya ada angin dan semerbak
khas malam yang diungsikan dalam ruang pasir pantai.

diam dan takjub.
berdesirlah haruku dan bermukim pada kapal tanpa labuhan.
kataku, “simpan saja, biar terbawa gemulung ombak”.

tak henti langkahku berlari.
tak ingin imanku begitu saja menepi.
bila sampai di sini pengembaraan cintaku berhenti
katakan pada sang pembawa pesan,
“cukup kau dayung sampan itu,
semakin cepat, kala semakin deras
ombak memenjarakan semangatmu kini,
ku tetap menunggu di pantai itu.”

pantai, tunjukkan aku labuhan yang paling damai.
yang di sana bertempat rinai-rinai mata air surgawi.
kekalkanlah aku di sana,
meski yang aku dapat hanya tampiasnya
yang koyak terlibas.

senandung tak henyak memekik
dalam kalam yang bertalu.
bagiku, harapan penuh haru,
seandainya semilir bagai lambaian bayu
meremukkan kalbu.

bagiku, tak lebih dari dunia
yang berbalut cerita semu,
kuhanya tahu, akan tiba masaku merasakan semua itu.
sepucuk cinta dalam keheningan mengamini itu.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Sajak Rindu di Gerimis Pagi

aku merapatkan hati ini pada detak
jam dinding di mayapada.
ada rindu di gerimis paginya.
di tajam-tajamnya ada guratan simfoni
menyertai hati dan kata yang tiada diam. menolehlah ia
pada hujan yang gerimisnya menusuk pelataran.
sendu.
syahdu.

aku menatap birunya titik air rinai
di kaca jendela.
kemilaunya semburat menikam rindu.
ah… ini fatamorgana!
bening.
ya, itu fatamorgana yang terisyaratkan dengan oase segar
yang kausisipkan di atas tembikar kekar.

oase di hati itu tertumpah di cakrawala mengaliri
relung sanubari. warnanya bagai lembayung terbalut kasih.
adakah kaurengkuh kemilaunya?
dan dengarkanlah tarian segar itu,
dari jendela kaca berintik cahaya kaupadukan
mozaik rindu yang padang rindang.
segar.
indah nian.

sudahlah, aku tak mampu lagi mengisahkan
sajak rindu ini.
biar detak jam dinding, gerimis, dan isyarat
yang jadi kemilau fatamorgana.
dan tentu engkau
yang tak habis-habisnya memeluk majas mesra.

sajak rindu di gerimis pagi bulan November
merilis simfoni hati yang tertera pada reranting
di pelataran. suaranya terdengar merdu di pematang senja.
ternyata ini realita bukan fatamorgana.
sisa jerit dan rintih pilunya
masih membayang di cakrawala.
dan tetap kunyanyikan bersama letupan doa
di penghabisan sepertiga malam.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Analisis Proses Morfologis Kata "Bersitegang" dalam Bahasa Indonesia


Morfologi menurut M. Ramlan adalah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Satuan terkecil dalam tataran morfologi adalah morfem sedangkan kata adalah satuan terbesar.
Morfem adalah satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna. Proses morfologis adalah proses penggabungan suatu morfem dengan morfem lain dalam membentuk kata. Berkaitan dengan hal itu, kita sering mendengar atau mengucapkan kata “bersitegang” dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sudahkah kita mengetahui proses morfologis kata tersebut? Mari kita perhatikan bersama kalimat berikut:
(1)               Saat itu si pemuda sedang bersitegang  dengan bujang si pemilik penginapan yang menagih bayaran.

Nah, kini muncul pertanyaan, melalui proses morfologis apakah kata “bersitegang” dan terdiri dari morfem apa saja kata “bersitegang”? Perkiraan sementara mungkin jawabannya adalah melalui proses afiksasi sebab telah kita ketahui bersama bahwa bahasa Indonesia memiliki prefiks ber-. Lalu bagaimana bila ada yang mengatakan “bersitegang” dibentuk dari prefiks bersi-? Tentu hal ini memerlukan analisis lebih lanjut.
Dalam contoh kalimat di atas, dapat dilihat bahwa kata “bersitegang” menduduki kategori verba, lebih tepatnya verba deajektival yakni verba yang berasal dari ajektiva sebab kata “tegang” berkategori ajektiva. Secara umum, prefiks pembentuk verba ada beberapa jenis seperti meN-, ber-, ter-, di-, dan per-. Berkaitan dengan “bersitegang” apakah dalam bahasa Indonesia terdapat prefiks bersi-? Dari beberapa buku yang saya jadikan referensi, tidak satu pun yang menyatakan bahwa bersi- adalah prefiks dalam bahasa Indonesia.
Si- dalam bentuk “bersitegang” agaknya jarang dibahas. Sebab si yang sering kita ketahui adalah si yang berkategori artikula yaitu kata tugas yang membatasi makna nomina seperti si pemuda dan si pemilik dalam contoh kalimat (1) di atas. Buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat artikula yang menominalkan yang membentuk verba dan berfungsi untuk menandakan dirinya menjadi bersifat tertentu seperti bersitegang, bersikukuh, bersimaharajalela, bersikeras, bersilengah. Ada apa dengan si-?
KBBI menjelaskan si dalam hal ini adalah bentuk terikat yang lazim didahului ber- (menjadi bersi- atau berse-) yang menyatakan: a berbuat dirinya menjadi; b saling (dl bentuk kata kerja ber-…-an). Ternyata ada kemungkinan “bersitegang” tidak hanya terbentuk karena bersi- tetapi juga berse-. Mungkinkah berhubungan dengan prefiks se-?
Memang tidak dijelaskan secara detail mengenai prefiks se- yang berkaitan dengan “bersitegang”. Ahli bahasa, J.S. Badudu dalam buku Pelik-Pelik Bahasa Indonesia mengelompokkan kata yang dasarnya kata sifat, awalan se- mempunyai arti sama dengan. Namun terdapat pula arti awalan se- yang lain yang juga dipakai pada kata-kata nama tumbuhan seperti sekejut dan setawar yang kini dilafalkan menjadi sikejut dan sitawar. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh bahasa Minangkabau yang tidak mengenal vokal /e/ sehingga diganti menjadi /i/. Begitu pula kata “bersitegang” bervariasi dengan “bersetegang” yang dalam bahasa Minangkabau adalah basitagang.
Dalam bahasa Minangkabau sendiri ternyata terdapat prefiks basi- yang dapat berfungsi derivasional atau infleksional. Prefiks basi- yang berkombinasi dengan ajektiva merupakan prefiks yang derivasional, sedangkan prefiks basi- yang berkombinasi dengan verba merupakan prefiks yang infleksional. Buku Tata Bahasa Minangkabau mencontohkan pengertian tersebut dalam kalimat di bawah ini:
Prefiks basi- derivasional

(2)               Basilambeklah saketek. Jan tagageh gageh bana.
Bersilambat-lambatlah sedikit. Jangan tergesa-gesa benar.

Prefiks basi- infleksional

(3)               Inyo bajalan basisuruik
Dia berjalan bersimundur.

Kata bersitegang dianalogikan sama dengan kalimat (2).
basitagang                               bersitegang
basilambek                              bersilambat

Jadi bisa disimpulkan sementara bahwa bentuk bersi- merupakan proses pengadopsian prefiks basi- dalam bahasa Minangkabau ke dalam bahasa Indonesia.
Ema Hasan, dkk, dalam buku Sari Tata Bahasa Indonesia menjelaskan arti prefiks ber- dalam “bersitegang” agaknya sama dengan bentuk berikut:
bersimaharajalela                   berlaku seperti si maharajalela
bersibodoh                              berlaku seperti si bodoh
bersibisu                                  berlaku seperti si bisu

Jika diselidiki lagi ternyata memang benar kata “bersitegang” mengandung artikula yang menominalkan yakni:
bersitegang                              berlaku seperti si tegang

Berdasarkan penjelasan mengenai proses morfologis di atas, maka kata “bersitegang” memiliki satu morfem bebas dan utuh yaitu {tegang} yang berkategori ajektiva dan satu morfem terikat yaitu {ber-} yang berkategori verba. Bentuk si- bukanlah morfem sebab si- dalam “bersitegang” merupakan bentuk terikat yang dalam hal ini selalu didahului ber-. Seperti yang dipaparkan dalam Buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia:
Ada sekelompok kecil verba ber- yang diturunkan dari dasar yang berartikel si, contohnya:

keras                                        bersikeras
maharajalela                            bersimaharajalela
tegang                                      bersitegang
kukuh                                        bersikukuh

Dapat diuraikan bahwa proses morfologis kata “bersitegang” adalah {tegang} + {bersi-}. Dalam “bersitegang” terjadi proses derivasi yaitu pembentukan kata yang dapat membentuk kata lain  yang berbeda dan identitas leksikalnya berbeda pula (verba deajektival).

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, et al. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Ayub, Asni, et al. 1993. Tata Bahasa Minangkabau. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Badudu, J.S. 1987. Pelik-Pelik Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Prima.
Husnan, Ema, et al. 1987. Sari Tata Bahasa Indonesia. Bandung: Angkasa.
Kridalaksana, Harimurti. 2007. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: P.T. Gramedia Pustaka Utama.
Ramlan, M. 2001. Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: C.V. Karyono.
Suherlan dan Odien R. 2004. Ihwal Ilmu Bahasa dan Cakupannya. Untirta: FKIP.
Tim Penyusun. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.






Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer