Halaman

Sabtu, 30 April 2011

Adinda, Ananda Merindukanmu…




Awan hitam kian menebal. Jendela hening menjemput malam. Mulai dingin dan tak acuh. Sepi. Seorang balita perempuan berusia sekitar dua tahun terdiam. Dipeluknya majalah bersampul perempuan yang manis dengan kerudung. Katanya, sembari mengeja luka, “Mama…”
Arrrgghh…anak itu masih memanggilnya mama. Tahu apa dia deskripsi tentang mama. Luka. Hanya luka. Anak itu tidak tahu betapa mamanya “mencintainya” hingga ia diberi kesempatan penuh untuk hidup hanya bersama sang bapak tercinta. Ya, balita perempuan itulah anakku, Nabila Kesya namanya.
***
Adinda. Aku mengenalnya tiga tahun sebelum aku memutuskan untuk menikahinya. Usia kami terpaut cukup jauh. Sepuluh tahun! Tapi, kupikir itu bukanlah alasan yang cukup baik baginya untuk menolakku sebagai calon suaminya. Gadis manis, berperawakan tinggi langsing, berkulit kuning langsat, berlesung pipi. Aduhai cantiknya, apalagi dibalut kerudung jingga yang ketika itu pertama kali ia kenakan. Subhanallah…
Kami berkenalan saat tampias hujan mengiringi pada satu sore di halte depan sekolahnya. Ketika itu ia masih duduk di bangku SMA kelas dua. Maka, perkenalan kami pun berlanjut. Sebagai seorang lelaki yang secara usia lebih dewasa darinya, maka aku menganggap hubungan ini serius dan tidak main-main. Setelah ia lulus sekolah, aku membuka perbincangan untuk lekas meminangnya. Namun, ia menolak. Katanya, “aku belum siap.” Aku pun bersedia menunggu hingga ia siap. Jujur, aku serius dengannya.
Masih teringat, saat itu Minggu siang. Di ruang tamu, ia duduk sembari gundah. Aku baru datang dan lekas menghampirinya.
“Mas Ari, dua minggu lagi kita harus menikah!” katanya.
“Dua minggu lagi? Tidak terlalu cepat?” aku menjawab sembari terkejut. Aku bukan tidak ingin menikahinya, tapi bukankah pernikahan itu butuh banyak persiapan.
“Ah, Mas ini bagaimana? Waktu itu bukankah Mas yang menginginkan agar kita menikah lebih cepat? Ya, kita harus menikah dua minggu lagi. Sehari setelah Mbak Ratih menikah,” jelasnya.
Mbak Ratih adalah kakak perempuan Adinda, yang juga kakak iparku. Usia Mbak Ratih hanya terpaut empat tahun dari usia Adinda. Aku menghormatinya. Aku telah menganggapnya seperti kakak kandungku sendiri meskipun ia jelas-jelas lebih muda dariku. Maka dari itu, aku tetap memanggilnya dengan sebutan ‘mbak’.
Jika digambarkan secara fisik, Adinda memang lebih cantik dibandingkan kakak perempuannya. Adinda juga lebih berpendidikan daripada Mbak Ratih yang hanya sampai pada tingkat menengah.
“Kenapa harus sehari setelah Mbak Ratih? Kita perlu persiapan yang matang, Din…” tukasku.
“Persiapan yang mana lagi yang Mas maksud? Kita sudah saling kenal lebih dari setahun, dan menurutku itu cukup untuk kita membangun rumah tangga. Atau, jangan-jangan memang Mas sudah tidak berniat lagi memperistriku?”
“Bukan begitu maksudku. Baik, kalau itu memang keinginanmu. Semoga semuanya dimudahkan.”
Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku berpikir, mengira-ngira hal yang menyebabkan Adinda sedemikian inginnya menikah sehari setelah Mbak Ratih menikah. Ah, tapi kupikir ini salah. Tidak baik berprasangka buruk terhadap orang yang kita cintai. Toh, aku telah berkomitmen menyayanginya selamanya dan menjadikannya ibu bagi anak-anak kami nanti.
Adinda, lukisan termanis dalam sketsa hatiku. Akulah pelukisnya. Dari wajahnya kugoreskan tebal tipis pesona. Cantik nian gadis itu. Dan tak beberapa lama lagi aku akan hidup bersamanya. Tak peduli betapa keras kepalanya ia. Yang jelas, telah kubayangkan bagaimana kelak anak-anakku bahagia. Mereka memiliki ibu yang istimewa, cantik, dan tentu saja cerdas. Kuakui, semangat Adinda untuk terus belajar sangat tinggi. Ia perempuan pintar yang pernah kukenal. Dalam riwayat pendidikannya, tak jarang prestasi terbaik diraihnya. Demikian pula dalam kehidupan kariernya. Ia selalu bersemangat meraih cita-citanya menjadi seorang akuntan. Aku kagum pada Adinda.
Hari pernikahan kami pun tiba. Tepat satu hari setelah Mbak Ratih menikah. Pesta yang sederhana. Hanya kerabat dekat saja yang kami undang. Sebenarnya, aku agak kecewa. Aku mengharapkan pesta yang lebih meriah daripada itu. Bukankah, ritual pernikahan ini hanya akan berlangsung sekali seumur hidupku, kecuali memang terjadi suatu hal dengan kami. Hmm, tapi aku tak berani membayangkannya. Aku telah cukup bahagia. Aku resmi menjadi suami Adinda. Harapku, menjadi bingkai yang menjaga hatinya.
Setelah menikah, kami memutuskan untuk lekas menempati rumah baru yang memang telah kusiapkan. Rumah yang sederhana, tidak terlalu buruk namun juga tidak terlalu mewah. Aku menyebutnya ‘rumah istimewa’ untuk kami berdua. Ya, lelucon saja sebenarnya. Apalagi ditambah dengan celetukan istriku, “Mas Ari, Mas Ari, kenapa kamu namakan rumah ini rumah istimewa? Lha, apanya yang istimewa? Hehe…”
Aku hanya tersenyum. Tidak menganggapnya terlalu serius. Aku tahu, itu hanya bercanda. Sudah sering memang Adinda melontarkan canda tawanya, yang bagi beberapa orang mungkin agak terkesan ‘meremehkan’. Itulah pekerjaan besarku sebagai suami. Aku wajib menuntunnya, mengajarkannya banyak hal. Dan aku yakin, jika pekerjaan besar itu dilakukan dengan cinta maka semuanya akan menjadi mudah. Aku sangat percaya itu.
Ketika kami menikah, Adinda masih semester empat. Hebatnya lagi, ia kuliah sambil bekerja. Sejak pukul delapan hingga pukul tiga sore ia bekerja di sebuah kantor akuntan publik, dan malam hari sekitar pukul tujuh malam ia kuliah di salah satu universitas swasta ternama. Ya, meskipun istriku itu tidak seperti istri-istri yang kebanyakan yang lebih banyak mengurusi keperluan rumah tangga, aku tetap bangga. Aku ikhlas membantunya, mengantar jemput kemana pun ia pergi, ikhlas pula walaupun ia tak cerdas mempersiapkan keperluanku seperti lazimnya seorang istri. Aku bahagia jika ia bahagia.
***
Selang tiga bulan setelah menikah, sepulang dari kantor, Adinda mengatakan, “Mas, tadi di kantor aku sakit, badanku panas, perutku mual. Aku langsung dibawa ke rumah sakit sama Pak Irwan. Kata dokter, aku hamil.”
Aku luar biasa bahagia mendengar kabar itu, “Alhamdulillah…”
“Mas senang?” tanyanya.
“Tentulah, Din. Siapa yang tidak senang jika seorang suami dikabarkan bahwa istrinya sedang hamil? Betapa luar biasa seorang perempuan yang sebentar lagi akan memiliki anak-anak yang lucu dan mungil…” aku menjawabnya dengan bahagia yang menggebu-gebu.
Adinda diam. Wajahnya terpancar raut yang biasa saja. Datar. Seperti tidak terjadi apa-apa.
“Kamu kenapa sayang? Kamu masih mual?”
“Hmm, tidak.”
“Lantas kenapa kamu diam?”
“Aku heran sama Mas.”
“Lho, kenapa heran?”
“Ya, heran. Melihat Mas terlalu senang. Aku tak habis pikir.”
Sejurus kemudian suasana menjadi hening. Baru kali ini perbincangan kami serius dan lama-kelamaan menjadi dingin kemudian beku. Apalagi ketika ia menjelaskan bahwa kehamilannya itu di luar rencanaya. Tidak ada perhitungan atas ini. Tidak seharusnya ia hamil dalam situasi yang seperti ini. Adinda masih ingin membangun karier dan mengenyam pendidikan.
“Mas, aku masih ingin cerdas.”
“Kamu cerdas, Dinda… Tanpa sekolah tinggi pun, aku yakin kamu cerdas.”
“Bukan hanya itu, Mas. Aku masih ingin mengejar cita-cita,” jawabnya.
“Kamu akan tetap bisa mengejar cita-cita, sayang. Jangan takut, aku selalu mendukungmu! Apa pun itu,” aku menenangkannya.
Setelah perbincangan itu, waktu kian berlalu. Makin lama perutnya makin membesar. Aku bahagia melihatnya. Istriku justru semakin terlihat cantik. Aku makin mencintainya. Cintaku semakin habis tercurah untuknya yang berbadan dua. Akan tetapi, ia masih belum bahagia sepenuhnya.
***
“Ari, segera ke rumah sakit sekarang. Adinda sedang dalam proses persalinan. Kami tunggu ya Nak,” suara ibu mertua di ponselnya sana.
Kukemudikan sepeda motorku hingga laju terus sekencang-kencangnya. Aku sudah tak sabar untuk segera sampai di rumah sakit. Alhamdulillah, sesampainya di sana istriku telah menyelesaikan proses persalinan dengan lancar. Aku mencium istriku dan bayi pertama kami dengan sejuta keharuan. Lagi-lagi, semakin aku mencintainya. Rasanya, aku ingin berteriak dan katakan, “Istriku yang cantik ini, Adinda, telah membuatku bahagia bertubi-tubi!” Aku menatap wajah Adinda yang pelan-pelan menitikkan air mata. Semoga yang kubaca itu benar, bahwa keharuannya sama seperti yang aku rasakan.
Seminggu setelah melahirkan, Adinda mulai beraktivitas seperti sebelumnya. Pagi pergi ke kantor, dan malam pergi kuliah. Anak kami, Nabila Kesya, sepakat kami titipkan pada ibu mertua, ibu Adinda. Namun sayangnya, ia masih merasa seperti belum memiliki seorang anak. Maka, tak heran kalau waktuku justru lebih tercurah untuk Nabila. Ya, seperti bertukar peran saja antara aku dan Adinda.
Tanpa aba-aba sebelumnya, dua bulan setelah Nabila lahir Adinda mengatakan bahwa ia meminta agar aku menceraikannya. Aku tak habis pikir dengan jalan pikirannya sekarang. Yang kutahu, sebelumnya kami memang baik-baik saja. Aku pun bingung. Katanya, hanya satu alasan bahwa keluarga kami sudah tidak bisa bersatu lagi, dan sudah tak ada cinta lagi di antara kami. Jujur, aku masih mencintainya. Namun, apa boleh buat. Aku tak bisa mempertahankannya, jika ia keputusannya itu memang sudah bulat.
Akhirnya, kini Nabila Kesya aku asuh sendiri dengan bantuan seorang baby sitter, yang juga tetanggaku. Aku masih mencintai Adinda. Awan hitam kian menebal. Jendela hening menjemput malam. Mulai dingin dan tak acuh. Sepi. Seorang balita perempuan berusia sekitar dua tahun terdiam. Dipeluknya majalah bersampul perempuan yang manis dengan kerudung. Katanya, sembari mengeja luka, “Mama…”
Arrrgghh…anak itu masih memanggilnya mama. Tahu apa dia deskripsi tentang mama. Luka. Hanya luka. Anak itu tidak tahu betapa mamanya “mencintainya” hingga ia diberi kesempatan penuh untuk hidup hanya bersama sang bapak tercinta. Ya, balita perempuan itulah anakku, Nabila Kesya namanya. Adinda, ananda merindukanmu.

Didedikasikan kepada Kesya, balita yang merindukan ibundanya… “Ibunda, kapan pulang?”


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Kaulah, Sahabat...

“Sahabat, kaulah puisi yang tak selesai digerus diksi!”


oleh Dwi Endah Septyani


“Aku pesan dua buah puisi untuk ucapan ulang tahun adikku besok! Penting. Jika tidak, dia akan marah padaku.”
Masih terdengar jelas kata-katanya yang memekik telingaku kemarin siang. Ya, lagi-lagi dia menuntutku untuk membuat puisi. Ah, entahlah. Kejadian ini sudah hampir seratus kali terjadi. Lelaki itu, Arjuna namanya. Aku mengenalnya sebagai sosok yang berkepribadian unik dan sangat menarik. Bahkan, sampai saat ini aku belum punya jawaban atas pertanyaan, “Hei, sobat! Kau kemanakan puisi-puisi buatanku yang kaupesan?”
Namaku Dewa, penyair kamar yang malu mengungkapkan buah tinta. Akulah, lelaki pendiam dan bersahabat dengan hujan, puisi, dan tentu saja Arjuna. Aku tidak tahu harus minum pil apa supaya aku percaya diri ‘memamerkan’ kelihaianku menggoyangkan pena di atas kertas. Aku tak pernah punya cukup keberanian untuk itu. Aku takut. Aku trauma.
Bermula saat pelajaran bahasa Indonesia di bangku kelas dua SMP, Pak Sastra menugaskan kami membuat sebuah puisi tentang persahabatan. Aku bahagia setengah mati. Sayang, dalam perjalanan pulang hujan deras. Tapi, kata-kata terus berloncatan di kepalaku. Kupaksakan berhenti. Tapi tak ada tempat berteduh. Enyahlah! Aku harus menuliskannya. Kukeluarkan sebuah buku saku bersampul biru, juga sebatang pena. Kutuliskan, kuberanikan menulis di bawah deras hujan.
Cukup satu kalimat:
Sahabat, kaulah puisi yang tak selesai digerus diksi!
Hujan berhenti. Kugoyangkan ujung pena. Ajaib. Seketika itu, kepalaku kosong. Tak ada lagi irama tentang puisi. Semuanya jadi hitam. Terpaksa kuhentikan niatku melanjutkan puisi. Itulah kali pertama aku merasakan adanya daya magis dalam puisi dan hujan. Aku merasakan kedamaian di dalamnya.
***
Keesokan harinya dalam pelajaran bahasa Indonesia.
“Baik, anak-anak. Ayo kumpulkan puisinya,” seru Pak Sastra mengawali pelajaran.”
Huh, setelah bertahun-tahun aku baru sadar ternyata tidak ada sastra dalam bahasa Indonesia. Ironis. Seharusnya, dalam jadwal mata pelajaran dituliskan “bahasa dan sastra Indonesia.” Ya, akhirnya aku cukup mengerti alasan mengapa Pak Sastra begitu horor jika mengajar. Mungkin, beliau sedikit tersinggung karena namanya tidak pernah disinggung. Sahabatku, Arjuna, pun sepakat dengan hipotesisku ini. Hipotesis yang sangat tidak ilmiah memang.
Pak Sastra merapikan tumpukan kertas berisi puisi hasil karya kami. Aku deg-degan. Super deg-degan. Arjuna, yang duduk di sebelahku melihatku sambil tersenyum kecil. Tepatnya sih meledek. Dia hafal benar, aku, sahabatnya, hampir tidak pernah sanggup bertahan dalam situasi seperti itu. Keringat dingin mulai bercucuran, jariku bergeletar, kakiku menggoyang-goyangkan kaki meja. Lagi-lagi, Arjunalah yang paling iseng meledekku. Mungkin pikirannya sedang berkata, “Duhai Bapak Guru, sahabatku Dewa, penyair kamar itu sedang berjuang mengendalikan keringat dingin dari pori-pori kulitnya sebelum kemudian akhirnya membeku!”
“Baik, nama yang Bapak sebutkan silakan maju membacakan hasil karyanya,” kata Pak Sastra yang semakin membuat telingaku semakin bergidik. Aku takut.
Aku Dewa, lelaki pendiam dan pengecut, yang tak pernah punya cukup keberanian untuk tampil ke depan. Hfff…dalam hati aku bermantera, “Ya Allah, selamatkan aku, selamatkan aku, selamatkan aku”
“Dewanda Arya, maju dan bacakan hasil karyamu!” suaranya memecah keheningan kelas. Terkejut. Semuanya hampir tak tampak di mataku. Degup jantungku semakin cepat dan keras. Andai Arjuna mampu mendengarnya, ia pasti membantu menyelamatkanku.
“Semangat Dewa, kamu pasti bisa!” Arjuna menyemangatiku dengan suara yang berat. Aku tahu dia khawatir terhadapku. Aku masih diam. Langkahku berat dan seperti belum sadar kalau ternyata aku telah memegang secarik kertas yang akan kubaca tulisannya.
“Sahabat, buat tinta Dewanda Arya.”
Tepuk tangan teman-teman bergemuruh. Semakin membuatku hampir tak sadarkan diri. Tapi, kulihat salah satu dari mereka tampak tenang dan tetap tersenyum. Terlihat sama sekali tidak tegang. Ialah Arjuna.
Arjunalah, satu-satunya sahabatku, bahkan satu-satunya temanku yang memanggilku “penyair kamar.” Ia juga paham, aku suka sekali menulis puisi di bawah hujan. Dan inilah kali pertama aku membacakan karyaku di depan umum. Ah, Arjuna, bagikan rasa percaya dirimu sedikit saja!
Aku fokus pada kertas yang ikut bergetar di tangan. Berusaha menguasai keadaan dan menyimpan wajah Arjuna yang tetap tenang.
“Sahabat, kaulah puisi yang tak selesai digerus diksi.”
Dalam hati aku berkata, Yeah! Arjuna, aku berhasil membacakan karyaku. Hmm, namun teman-teman tetap diam. Seperti menungguku membacakan kalimat selanjutnya. Aku tahu, mungkin teman-teman bingung dengan puisi buatanku.
Sekejap kemudian Arjuna memandu teman-teman bertepuk tangan. Utamanya, ingin memberitahu bahwa puisiku hanya sebaris kalimat itu. Tidak lebih. Tepuk tangan bergemuruh untuk kedua kalinya. Meskipun, aku tidak tahu apa arti tepuk tangan itu. Entahlah, yang penting aku telah menggugurkan kewajibanku membaca puisi.
Lagi-lagi, panggilan Pak Sastra membuatku terkejut.
“Dewa, itu puisi karya siapa?”
“Karya saya, Pak,” jawabku sekenanya.
“Kamu jujur itu karyamu?” beliau kembali bertanya.
“Iya, Pak. Saya jujur. Saya menulisnya kemarin sepulang sekolah, Pak.”
Seseorang yang kukenal sekali suaranya ikut pula masuk dalam perbincangan kami. Arjuna angkat bicara.
“Iya, Pak. Puisi itu benar-benar hasil karya Dewa. Dia bukan plagiator, Pak! Saya punya bukti kalau puisi itu memang tulisan Dewa,” Arjuna membelaku. Padahal, aku sendiri malas berdebat dengan orang lain, sekalipun puisi itu memang nyatanya karyaku. Terlebih berdebat dengan Pak Guru, ah aku tidak suka.
“Coba, barang buktinya tunjukkan kepada Bapak!” Pak Sastra masih saja ingin memenangkan perdebatan ini.
Aku justru santai. Tidak sedikit pun berharap aku memenangkan perdebatan ini. Meskipun aku tahu, betapa marahnya Pak Sastra jika siswanya berplagiat ria. Dan hukumannya adalah tidak mendapatkan nilai dalam kegiatan pelajaran kali itu. Ah, apapun itu. Aku tidak peduli. Aku sudah cukup bahagia membuahkan karya, meskipun mereka tidak pernah mau mengakuinya. Kecuali Arjuna. Aku juga tidak peduli dengan apa perkataan orang lain tentang aku dan puisiku, yang jelas aku selalu bahagia ketika mampu mengolah kata hingga meramunya jadi puisi yang bermakna. Apalagi jika hujan tiba. Imajiku bertambah melesat-lesat dan majasku berhamburan ke sana kemari.
Arjuna mengobrak-abrik isi tasnya, mencari barang bukti yang hendak ditunjukkan kepada Pak Sastra. Aku tetap diam. Bahkan tidak tahu, barang apa yang sedang dicari Arjuna. Aku menghampirinya.
“Apa yang kamu cari, Arjun?”
“Benda yang akan menyelamatkanmu dari keadaan ini.”
“Sudahlah, Jun, aku ikhlas kalau Pak Sastra berbuat ini padaku,” jawabku dengan suara yang pelan, khawatir kalau-kalau Pak Sastra mendengarnya.
“Ah, kenapa tidak ada! Semalam aku melihatnya.”
“Lupakan saja, Arjun. Aku akan baik-baik saja. Tenanglah.”
Arjuna, sahabatku masih sibuk mencari benda yang entah berwujud apa. Aku sendiri, yang menulis puisi itu tidak tahu apakah ia benar-benar punya bukti. Aku benar-benar lupa. Benar kata Arjuna di siang itu, katanya aku ini selain pemalu juga pelupa! Hilangkan sakitmu itu, mau jadi apa kau kalau begini terus. Hmm, aku hanya tersenyum malu. Lagi-lagi, aku baru sadar dan selalu diingatkan untuk sadar. Ya ya, aku pemalu dan pelupa. Katro ah!
“Mana Arjuna? Kamu tidak punya bukti kan?” Pak Sastra mulai mengisyaratkan bahwa beliau memenangkan “pertandingan” kali ini.
“Emmm, emm, maaf Pak, padahal semalam saya menyimpannya di dalam tas,” Arjuna tetap bersikeras membelaku. Arjuna, sahabatku, memang pemberani.
“Baik, anak-anak, pelajaran kali ini sempurna dihabiskan hanya untuk mencari barang bukti. Bapak tegaskan sekali lagi, bahwa Dewanda Arya telah memplagiat puisi seorang penyair. Maka dari itu, diputuskan, Dewanda tidak mendapatkan nilai alias nol dalam pelajaran menulis puisi!” katanya dengan tegas.
Anehnya, aku tidak sama sekali merasa tereksekusi dan kalah dalam pertandingan. Aku malas berdebat atau hanya sekadar bertanya, “dari mana Bapak tahu kalau puisi saya adalah hasil plagiat? jika iya, penyair siapakah itu yang memiliki pikiran yang sama dengan saya!”
Ya sudahlah, meskipun begitu, aku mengambil hikmah dari kejadian ini. Arjuna, yang dengan sekuat upaya membebaskanku dari ‘cengkeraman’ Pak Sastra. Atau bahkan, jangan-jangan ini pertanda bahwa suatu hari nanti puisiku mengubah statusku dari ‘penyair kamar’ menjadi ‘penyair tenar’. Walaupun memang, perlu tempel sana tempel sini untuk mengubahku menjadi sosok pemberani seperti Arjuna.
***
Di pojok sekolah, depan mading, pagi-pagi sebelum bel masuk berbunyi.    
“Ih, keren…!” ucap salah satu siswa terkagum-kagum.
“Wuish, siapa dulu dong, sahabat gue nih. Keren kan?” balas Arjuna.
Sebuah pengumuman tertempel di mading sekolah: Selamat kepada Dewanda Arya, Juara 1 Lomba Menulis Puisi Siswa Tingkat Nasional.
Ketika itu, Dewa sudah di dalam kelas, menunggu Arjun sambil menulis puisi pesanan Arjun yang sedikit mengancam itu. Teman-teman sekelas berhamburan menyalami dan mengucapkan selamat padanya. Dewa tidak mengerti maksud mereka. Ia merasa tidak sedang mengalami kesuksesan apa pun. Yang, ia tahu, saat itu bertepatan sekali dengan hujan. Dan seketika itu pula imajinya tumpah melimpah ruah. Sebuah prestasi menghampirinya dan dijemput diam-diam oleh sahabatnya, Arjuna.
“Selamat, sahabat! Kamu telah memenangkan lomba menulis puisi siswa SMP tingkat nasional!” kata Arjuna dengan sumringah. “Kamu hebat, penyair kamar! Kamu hebat!” tambahnya.
Aku mengernyitkan dahi karena tidak mengerti. Aku sama sekali tidak pernah merasa mengikuti lomba apa pun. Toh, aku sudah bahagia ketika telah menyelesaikan puisi meski hanya sekadar ditempelkan di dinding kamar. Atau hanya sekadar memenuhi pesanan Arjuna, pesanan yang aneh: membuatkannya puisi yang bahkan aku tidak tahu ke mana perginya puisi-puisi itu.
Hah! Arjuna menafsirkan tanyaku barusan.
“Puisimu kutinggalkan di kotak-kotak lomba. Maaf, aku tidak mengatakannya padamu. Dan salah satu puisimu yang katanya hasil plagiat itu, berhasil lolos menjadi juara. Selamat! Pengumuman lomba-lomba menulis puisi yang lain akan segera menyusul beberapa hari ini. Dan aku yakin kamu memenangkannya. Kamu penyair hebat, sobat!”
Aku terharu dibuatnya, aku menepuk pundaknya agak keras. Agak terbahak, kukatakan padanya, “Sahabat, kaulah puisi yang tak selesai digerus diksi!”
Tawa kami pun lepas satu-persatu. Lagi-lagi dia mengatakan untuk kesekian kalinya, “Dasar, penyair kamar! Kamu hebat!”
Begitulah persahabatan kami terjalin indah. Arjuna memapahku dari jalan kegelapan dan kesunyian. Saling menopang, saling menasihati di kala alpa dan salah. Membangkitkanmu dari tidur dan istirahat yang terlalu lama meskipun hanya untuk sekadar mengatakan, “kita harus berjalan terus!” Yang dalam diam, ternyata ia juga mencari jalan kesuksesan untuk sahabatnya.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Antologi Selaksa Makna Ramadhan


Judul : Selaksa Makna Ramadhan
Penulis : Dang Aji, Tridju Pranowo, dkk
Tebal : iv + 291 hlm




Harga : Rp 56.400,-

Sinopsis:Begitu beragam inspirasi yang bisa dimaknai dalam bulan suci Ramadhan. Sebuah bulan mulia yang sengaja Allah turunkan bagi keberkahan seluruh umat islam di atas bumi. Inspirasi-inspirasi itu coba dibagi oleh para penulis dalam buku sederhana ini. Buku ini berisi 200 kisah sarat makna dari 425 naskah yang masuk dalam even Lomba Menulis yang didukung oleh Group Untuk Sahabat dan Blog Cerpen Tiga Tujuh.Selain itu, terdapat pula 11 cerita komedi pilihan yang dirangkum dari kisah seputar Hari Raya Qurban.Cerita menarik yang diracik dengan apik dalam menyampaikan pesan religius melalui seekor kambing qurban. Kisah-kisah inspiratif dalam buku ini dapat menjadi pilihan bacaan yang segar dalam memaknai hadirnya setiap momen spiritual yang kian melengkapi hidup kita menuju indahnya jalan Illahi.


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Antologi Kulepaskan Kau dari Hatiku...

Kumpulan 63 tulisan dari orang-orang yang (katanya) berani meleburkan isi hati, bahwa cinta harus ditempatkan di ruang yang tepat, bagi sesiapa yang layak memenuhinya... #anti sakit hati, baca yang ini, karena jodoh takkan ke mana...



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Antologi Ibuku Adalah...

Ditulis ketika Hari Ibu, 22 Desember 2010 lalu untuk ikut lomba di salah satu grup facebook (UNSA). Tulisan kedua untuk Mama, setelah yang pertama menulis hanya untuk memenuhi tugas mata kuliah Retorika. Dan yang ini, diterbitkan di Leutika Prio. Teman-teman yang ingin membeli, bisa pesan melalui saya lho.




Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Antologi Puisi Festival Bulan Purnama


Komentar mengejutkan di awal tahun 2011 mampir di status facebook saya, "Kan bukunya udah diterbitin, puisimu ada di halaman sekian..." Saya tersentak, masa' iya? Ternyata benar, berawal dari iseng-iseng kirim dua puisi berjudul Antara Aku, Puisi, dan Pak Guru, dan Buku Biru Berdebu, ke Dewan Kesenian Mojokerto 2010 lalu, mendapatkan tempat juga di dua halamannya. Huwaaa... Bahagia sih bisa bersama-sama mejeng dengan penyair sekelas Ahmadun Yosi Herfanda, tapi ya mencoba tetap biasa-biasa saja, itu belum ada apa-apanya. Lagipula kapan juga menjadi ada apa-apanya. Haha... Ibarat salat berjamaah, buku antologi itu punya makmum yang luar biasa banyak, wedeh... :)







Buku tebal, cukup unik untuk pengganjal pintu.. Astagfirullah, jangan deh... ^^





Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

Koran Radar

Ada yang iseng, supaya numpang mampir ke sana... halaah.. ^^


Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer